Arsip Kategori: Uncategorized

Jilbab, Lambang Kebebasan Hakiki

Oleh Asri Supatmiati

Hari gini jilbab masih saja digugat. Beberapa negara di dunia, masih memberlakukan larangan jilbab. Seperti di Turki, Jerman, Perancis, Italia, dll. Katanya negara liberal yang menjunjung tinggi hak asasi manusia, tapi muslimahnya tidak dibebaskan berjilbab. Padahal itu merupakan hak muslimah untuk taat kepada Rabb-nya. Ironi.

Di Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim, jilbab sudah menjadi pemandangan biasa. Namun anehnya, masih juga ada yang berani mengusik. Terbaru, datang dari Human Rights Watch (HRW) yang melontarkan tudingan, bahwa Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Daerah Istimewa Aceh tentang Pelarangan Khalwat dan Kewajiban Mengenakan Pakaian Muslimah bagi warga Muslim di Aceh merupakan aturan yang melanggar HAM. HRW pun mengopinikan agar perda itu dicabut atau diamandemen.

Kebebasan Hakiki

Di Indonesia, jilbab sudah menjadi pemandangan biasa. Bukan semata-mata sebagai negara berpenduduk muslim terbesar bila jilbab begitu mudah dikenakan di negeri ini, lebih karena meningkatnya kesadaran kaum muslimah akan ketakwaan.

Jilbab adalah identitas kebanggaan muslimah shalehah. Mereka yang istiqomah mengenakan pakaian takwa ini, bebas beraktivitas di ruang publik tanpa halangan. Belanja, ke salon, tamasya, kuliah, bekerja dan bahkan berenang tetap bisa dilakukan. Termasuk menyopir mobil sendiri atau mengendarai motor, sudah biasa dilakukan muslimah berjilbab.

Perempuan berjilbab inipun berasal dari berbagai kalangan dan profesi. Bahkan di antara mereka, banyak yang bergelar doktor, dokter, pakar, insinyur, dan gelar akademik membanggakan lainnya. Mereka golongan cendekia yang cerdas, kritis dan kiprahnya diakui bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

Mereka bukan perempuan kolot dan bodoh, yang terpaksa menyembunyikan keindahan tubuhnya karena dominasi laki-laki, sebagaimana tudingan Barat. Mereka tidak merasa terbelenggu dengan berjilbab. Justru, mereka bangga dengan jilbabnya.

Jilbab merupakan lambang “kebebasan” hakiki seorang perempuan. Ya, dengan jilbab, perempuan tidak dipusingkan oleh urusan penampilan. Sebab, jilbab bisa dikenakan kapan sana dan di mana saja, setiap waktu dan dalam setiap kesempatan. Tidak lekang oleh zaman. Tidak usang oleh perkembangan mode. Dengan jilbab, tidak ada istilah saltum alias salah kostum, karena jilbab bersifat universal.

Berbeda dengan pakaian ala Barat, serba beda dalam setiap suasana. Pakaian pesta, santai, jalan-jalan dan bahkan tidur harus berbeda.  Tanpa jilbab, justru kaum perempuan “terpenjara” oleh trend fashion yang selalu berubah dengan cepat.

Demi predikat fashionable, perempuan umumnya harus selalu mengikuti trend. Perempuan seperti ini membelanjakan sebagian besar isi dompetnya untuk membeli baju model terbaru, kosmetik, pewangi dan aksesoris lainnya. Mereka juga menghabiskan sebagian umurnya di depan cermin demi sebuah predikat: cantik.

Tak cukup itu, perempuan yang mengklaim modern dan trendy ini selalu sibuk memikirkan pendapat orang lain. Apakah orang suka dengan penampilanku, akankah pujian atau celaan yang akan kuterima, apakah aku cantik dan serasi atau tidak. Inilah tembok penjara kapitalis yang hakikatnya justru mengungkung kaum perempuan. Kelihatannya mereka bebas berkeliaran di ruang publik dengan busana apapun yang mereka mau, tapi sesungguhnya pola pikirnya dijajah streotype “cantik” oleh industri kecantikan yang jahat.

Pembangnun Peradaban

Terlepas dari fenomena di atas, kita harus mengakui kontribusi perempuan berjilbab di seluruh dunia. Merekalah peletak dasar lahirnya generasi dan pembangun peradaban.

Bila perempuan berpenampilan serba terbuka ala Barat lebih banyak menjadi gula-gula dalam peradaban sekuler, perempuan muslimah yang menjaga kehormatannya memiliki peran sentral bagi kemajuan bangsanya. Ialah pelahir generasi penerus, pendidik utama dan pertama anak-anaknya.

Bila perempuan ala Barat yang berkiprah di publik, lebih mengandalkan kemolekan tubuh dan kecantikan rupanya; perempuan muslimah berkiprah memberi maslahat umat bermodal kecerdasan dan keterampilannya.  Sebagaimana ketika baginda Rasulullah SAW berhasil menancapkan dahwah dan jihadnya, disupport penuh ibunda Siti Khadijah.

Begitu pula Nur Jehan, yang namanya diabadikan dengan bangunan Taj Mahal di India sebagai bukti kecintaan rakyat atas kiprahnya. Juga ibunda Imam Syafi’i, yang menjadi pendidik utama hingga ulama besar itu menjadi ‘orang.’ Belum lagi para syahidah, pejuang Islam yang menggoreskan tinta emas dalam sejarah panjang peradaban dunia.

Timbangan Syariat

Berbicara soal jilbab, Islam memang sudah mengaturnya dengan jelas. Kaum perempuan wajib mengenakannya tanpa reserve. Karena itu, larangan jilbab tak akan menyurutkan niat para muslimah shalehah itu untuk mengenakannya. Mereka jauh lebih takut kepada Allah SWT dibanding takut kepada penguasa laknatullah.

Bagaimana kaum muslimah bisa seteguh itu memegang prinsipnya? Ini karena Islam sudah mengatur, bahwa pakaian bukan sekadar penutup malu, lambang kepribadian atau pemanis penampilan. Pakaian adalah identitas ketakwaan. Karena itu, pakaian sudah didesain Allah SWT sebagai panduan bagi mereka yang mengaku bertakwa.

Bagi muslimah, kewajiban berpakaian takwa dimulai dari kewajiban menutup aurat. Jumhur ulama tidak berbeda mengenai status hukum, bahwa hukum menutup aurat adalah wajib, dimana batasan aurat perempuan adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Sabda Rasulullah SAW:

“Tidak dibenarkan bagi seorang wanita yang percaya kepada Allah dan hari kemudian untuk menampakkan kedua tangannya kecuali sampai di sini (nabi kemudian memegang setengah dari tangannya)” (HR ath Thabari).

Nah, untuk menutup tubuh ini, diperintahkan mengenakan jilbab (QS Al Ahzab [33]: 59) dan kerudung/khimar (QS An Nur [24]: 31).

Surat Al Ahzab ayat 59 berbunyi:

يٰأَيُّهَا النَّبِىُّ قُل لِأَزوٰجِكَ وَبَناتِكَ وَنِساءِ المُؤمِنينَ يُدنينَ عَلَيهِنَّ مِن جَلٰبيبِهِنَّ ۚ ذٰلِكَ أَدنىٰ أَن يُعرَفنَ فَلا يُؤذَينَ ۗ وَكانَ اللَّهُ غَفورًا رَحيمًا

Hai nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak diganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Surat An Nur ayat 31

وَقُل لِلمُؤمِنٰتِ يَغضُضنَ مِن أَبصٰرِهِنَّ وَيَحفَظنَ فُروجَهُنَّ وَلا يُبدينَ زينَتَهُنَّ إِلّا ما ظَهَرَ مِنها ۖ وَليَضرِبنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلىٰ جُيوبِهِنَّ ۖ وَلا يُبدينَ زينَتَهُنَّ إِلّا لِبُعولَتِهِنَّ أَو ءابائِهِنَّ أَو ءاباءِ بُعولَتِهِنَّ أَو أَبنائِهِنَّ أَو أَبناءِ بُعولَتِهِنَّ أَو إِخوٰنِهِنَّ أَو بَنى إِخوٰنِهِنَّ أَو بَنى أَخَوٰتِهِنَّ أَو نِسائِهِنَّ أَو ما مَلَكَت أَيمٰنُهُنَّ أَوِ التّٰبِعينَ غَيرِ أُولِى الإِربَةِ مِنَ الرِّجالِ أَوِ الطِّفلِ الَّذينَ لَم يَظهَروا عَلىٰ عَورٰتِ النِّساءِ ۖ وَلا يَضرِبنَ بِأَرجُلِهِنَّ لِيُعلَمَ ما يُخفينَ مِن زينَتِهِنَّ ۚ وَتوبوا إِلَى اللَّهِ جَميعًا أَيُّهَ المُؤمِنونَ لَعَلَّكُم تُفلِحونَ

Artinya: Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau Saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Jilbab adalah pakaian luas semacam baju kurung yang menutupi seluruh tubuh dari leher, dada, tangan  sampai kaki  dan kerudung untuk menutup kepala, leher sampai dengan dada.

Jilbab merupakan pakaian wanita pada kehidupan umum/keluar rumah: pasar, jalan dsb. Jilbab merupakan pakaian longgar yang menutupi pakaian keseharian wanita di rumah. Hal ini bisa difahami dari hadits Ummu ‘Athiyah ra.

عَنْ أُمِّ عَطِيَّةَ قَالَتْ أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُخْرِجَهُنَّ فِي الْفِطْرِ وَالْأَضْحَى الْعَوَاتِقَ وَالْحُيَّضَ وَذَوَاتِ الْخُدُورِ فَأَمَّا الْحُيَّضُ فَيَعْتَزِلْنَ الصَّلَاةَ وَيَشْهَدْنَ الْخَيْرَ وَدَعْوَةَ الْمُسْلِمِينَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِحْدَانَا لَا يَكُونُ لَهَا جِلْبَابٌ قَالَ لِتُلْبِسْهَا أُخْتُهَا مِنْ جِلْبَابِهَا[5]

artinya: dari ummu athiyah berkata: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami untuk keluar pada hari fithri dan adha, baik gadis yang menginjak akil baligh, wanita-wanita yang sedang haid maupun wanita-wanita pingitan. wanita yang sedang haid tetap meningggalkan shalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum muslim . Aku bertanya, “wahai rasulullah salah seorang diantara kami ada yang tidak memiliki jilbab?” rasulullah saw menjawab: hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya (HR. Muslim).

Makna hadits ini, ada perempuan yang di rumah mengenakan pakaian biasa, tapi tidak punya jilbab untuk keluar rumah. sebab tidak mungkin perempuan itu sama sekali tidak berpakaian di dalam rumahnya. hanya saja, pakaian sehari-harinya di rumah bukan berupa jilbab, sebagai syarat untuk bisa keluar ke ruang publik.

Khatimah

Dengan uraian di atas, tak ada gunanya melarang jilbab. Upaya menghalangi ketakwaan kaum muslimah hanya akan sia-sia. Apalagi larangan itu didengungkan segelintir manusia.(*)

Asri Supatmiati, S.Si,
Jurnalis, penulis buku-buku islam.


Sekilas Tentang Ushul fiqh


Hukum mempelajari ‘ilmu Ushul Fiqh adalah Mubah, adapun tujuan dari mempelajarinya adalah “menjadi Fukaha”. Kata Guru saya, satu-satunya kunci dalam mempelajari Ushul Fiqh adalah Lughah ‘arabiyyah.
Ushul Fiqh tebentuk dari kalimat : “Ushul” dan “fiqh”.
Al Ushul merupakan jamak dari al ashlu yang mengandung makna ; dasar, asas, asli.  Adapun Fiqh, secara bahasa berarti pemahaman. Secara syara’ bermakna pengetahuan terhadap hukum-hukum syara’ bersifat praktis yang digali dari dalil-dalil terperinci dan topiknya menyangkut tentang perbuatan hamba, sepeti halal, haram, sah, batal, fasad dll.  Dalam kitab Dirasati fil Ushul Fiqh  Muqadimah dan bab awal,  hal yang pertama dibahas adalah hukum syara’.  Pastinya Sebelum mempelajari Metode Ushul Fiqh harus mempelajari terlebih dahulu Hukum syara’ atau Man Yumliku ishdaru hukmi ‘alaa af’al wal asyya a, ay man huwa Al Hakim.
Hukum Syara’
Menurut  pakar Ushul Fiqh, hukum Syara’ adalah seruan (khitab) syara’ yang berkaitan dengan perbuatan manusia  yang berupa tuntutan (iqtidhaa i ), penetapan, atau pilihan.
Syarah/penjelasan  — >  kenapa diakatakan syara’ ?? khitab atau seruan dalam Islam tidak hanya Al Qur’an saja akan tetapi ada Hadist, Ijma’ Sahabat dan Qiyas. Makanya dikatakan syara’ tidak Allah agar Hadist, Ijma’ dan Qiyas bisa tercakup. Kemudian dituliskan pebuatan hamba, tidak disebutkan Mukallaf , kenapa ? agar bisa mencakup hukum-hukum yang berkaitan dengan orang gila dan anak kecil (misal, Zakat atas harta). Dikatakan perbuatan manusia karena Hukum syara’ adalah untuk seluruh Manusia tidak hanya Umat Islam saja.
Berupa tuntutan, penetapan/pelaksanaan atau pilihan, maka hukum syara’ dibagi dua bagian
Khitab taklifi : seruan syara’ yang berkaitan dengan penjelasan hukum atas perbuatan manusia berupa tuntutan dan pemberian pilihan.  Tuntutan disini bisa berupa jazm (pasti) atau ghayr jazm (tidak pasti). Dan pilihan adalah Ibahah / Mubah.
Khitab wadh’i : seruan syara’ yang menjelaskan pekara-perkara yang dituntut oleh hukum atas perbuatan manusia yaitu perkara-perkara yang menentukan terwujudnya suatu hukum atas atas kesempurnaanya.
Contoh : kewajiban mendirikan shalat dalam Nash Qs Al Baqarah ayat 43
Khitab Taklifinya — > Kewajiban mendirikan shalat
Khitab Wadh’inya — > berbicara tentang, waktu sahnya shalat, cara shalat, syarat-syarat                                                                    Shalat, Rukun-rukun shalat.
Tanpa khitab wadh’i atau memisahkan maka hukum syara’ hanya akan menjadi wacana.  Jadi dua khitab ini tidak bisa dipisahkan. Khitab taklifi berbicara tentang tuntutan, sedangkan khitabWadh’i berbicara tentang pelaksanaannya penyempurna dari seruan syara’ tadi.
Tuntutan / khitab disini mencakup tuntutan untuk mengerjakannya(Wajib/Fardhu)  dan pilihan untuk tidak mengerjakannya (Sunnah). []

To be continued

Tuesday 26 Mei 2010,  23:40.


Filosofi keyakinan sang burung

Pernahkah kita sekilas merenungkan,  sebuah hadist dari Umar Bin Khatab bahwa Rasulullah saw bersabda, “jika kalian benar-benar bertawaqal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan rizki kepada kalian, sebagaimana Allah memberikan rizki kepada burung. Burung itu pergi dengan perut kosong dan kembali ke sarangnya dengan perut penuh makanan” HR Al hakim. Pertanyaannya adalah kenapa dalam konteks rizki Allah memberikan analogi kepada hamba-hambaNya dengan burung?!  Barangkali kita selintas pernah melihat film dokumenter tentang burung.

burung selalu keluar dari sarangnya pada pagi hari untuk terbang dan mencari makan, tidak pernah didunia ini ada burung yang kesiangan –‘ (ga percaya tanya sahaja ke burung). Sebelum terbang burung selalu menghentakan kakinya sekuat tenaga agar ada energi untuk terbang, benarbenar terkumpul, ketika terbang matanya jeli untuk mencari makanan dan setelah burung makan dia selalu menyisakan makanannya di dalam pinggir mulutnya untuk dibagikan anak-anaknya.  Jika kembali ke hadist, seekor burungpun dapat berpikir optimis kelak pasti ia dapt makanan. Selalu dan selalu seperti itu.

Sekilas mungkin ini biasa, tapi bagi saya dalem. Coba kita kaitkan dengan aktivitas sehari-hari yang pasti merupakan implikasi keimanan kita kepada Allah.

Yang pertama, burung tidak pernah kesiangan. Bagaimana dengan para pejuang islam syari’ah khilafah? Dalam menjalankan agendanya sehari-hari? Kesiangan disinih bisa dimaknai telat, tidak semangat, malas, banyak berpikir dalam melakukan kebaikan, jenuh dst..

ikhlas dan tawaqal dalam menjalani kewajiban kita kepada Allah ‘azza wa jalla. antara Kewajiban satu dengan yang lain tidak ada bedanya sama-sama wajib (individu, red). Hal yang sering kita lupakan adalah “terikat dengan hukum syara’” walaupun pejuang sekalipun tapi sering melupakan hal ini (maybe, red). Misal, meningkatkan kualitas diri dengan tsaqafah-tsaqafah islam. Thalabu ‘ilm hukumnya wajib, tapi mungkin kadang kita suka milih-milih dulu mana yang mau saya pelajari dan mana yang tidak. Atau mungkin terbesit dalam pikiran kita hanya cukup mengkaji islam seminggu sekali. Waktu kajianpun adalah sisa dari aktivitas keseharian. Hal yang lain adalah Belajar bahasa ‘arab yang kita tahu wajibnya minta ampun but we’re had been forget it, merasa tenang dengan besitan hati nanti juga bisa, nanti nanti dan nanti, menunggu diajari dst. Menuntut ‘ilmu lebih merasa akan saya ikuti jika tempatnya dekat, kadang kita suka mengeluhkan tempat kajian jika itu jauh menurut pandangan kita.

Astaghfirullah , Kita masih kalah sama burung, dia terbang tanpa mengukur jarak untuk mendapatkan makanan. Seharusnya kitapun bisa lebih dari itu mengejar ‘ilmu tanpa waktu dan tempat.

Yang kedua, burung selalu menghentakan kakinya sekuat tenaga agar energi untuk terbang, benar-benar terkumpul.

Persiapan! Yupz, persiapan sebelum menjalani aktivitas bisa dengan membuat jadwal, telaah mana yang wajib, mubah dst. dan mana yang diprioritaskan ketika terjadi benturan aktivitas, kesehatan kitapun kita jaga jangan sampai menjadi penghalang dalam menjalani aktivitas. dan yang paling penting adalah persiapan spiritual, Rasulullah mencotohkan persiapan menjelang pagi bada’ fajar adalah dengan melakukan shalat malam agar dipagi harinya memiliki jiwa semangat yang tinggi.

setan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika sedang tidur. Dia memukul pada setiap ikatan seraya berkata, “engkau memiliki malam yang sangat panjang, maka tidurlah,” apabila orang tersebut bangun dan berdzikir kepada allah, maka terurailah satu ikatan. Kemudian apabila ia berwudhu, maka terurailah ikatan yang kedua. Jika setelah itu ia shalat, maka terurailah seluruh ikatan. Dipagi hari ia bersemangat dan berjiwa baik. Tapi jika ia tidak melakukan tiga perkara diatas, maka dipagi hari ia akan buruk jiwanya dan menjadi pemalas” HR Mutafaq’alayh

Ketiga, ketika terbang mata burung  jeli untuk mencari makanan.

Saya memaknai kata “jeli’ dengan behati-hati / ihtiyat. Berhati-hati dalam menjalani setiap aktivitas. Senantiasa berpikir matang dan serius dalam mengambil keputusan.

Keempat, setelah burung makan dia selalu menyisakan makanannya di dalam pinggir mulutnya untuk dibagikan anak-anaknya.

Berbagi =)), ketika kita mendapatkan apapun itu maka jangan lupa untuk berbagi kepada saudara-saudara kita disekeliling. Berbagi ‘ilmu, berbagi rizki, berbagi nikmat, berbagi pengalaman, berbagi makanan, berbagi kebahagian, berbagi!

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih“. Qs Ibrahim :7

Luar biasa ketika allah memberikan sample kepada Manusia pasti ada hikmah dibalik itu, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari salah satu Mahluk allah ‘azza wa jalla. Yang bernama burung []


ZaiD anD FaiZ…. “struggle of khilafah”

Abdullah Zaid Ramadhan

meow0022Dia adalah zaid putra pertama dari pasangan Teh fadiyah ma suaminya kang gaza..

di beri nama zaid, Berharap kelak akan seperti zaid bin tsabit yang terkenal sebagai qari’ nya umat islam, komandan pengumpul hafalan alqur’an pada masa hidupnya yang pernah berdampingan dengan Rasul Saw… dan zaid-zaid lainnya… mendidiknya dengan pendidikan islam… kelak akan seperti mereka… Aamiin..

di lahirkan pada hari akhir bulan ramadhan kemarin.. beratnya sekarang ampir 7kilo.. endut banget.. beberapa kebisaan zaid saat ini Saat zaid melihat HP maka ia pasti mendadak kalem tepat di depan HP, berubah jadi fotogenic… gambar di atas, salah satu gambar yang saya foto di HP…. Kalo di depan akhwat-akhwat, mendadak jadi zaim… bukan mahram kata umminya kek gitu… dalam hati zaid, ketika berada di tengah-tengah akhwat dan bilang ini bukan jama’ah saya..

Kalo di panggil syeikh mendadak langsung melihat wajah orang yangmeow0031 memanggilnya [seperti akan berkata iya, ada apa?? Mau minta fatwa apa?,

kalo ma umminya di panggil zaid supaya liat kita rada zaim, tapi kalo dah di panggil syeikh…. , apalagi kalo disebut ganteng, zaid pasti langsung, menengok dan melihat wajah orang yang memanggilnya itu…

kalo bilang ‘cayang’, zaid cayang tetehnya… tangan zaid langsung ke kepala orang yang sedang dekat dengan dia.. kaya ngelus-ngelus gitu.. kalau di ajak bicara, zaid pasti enyum-enyum ampe ketawa terbahak-bahak..

hahaha lucu pisan….

Faiz gazi

faiz-masyirah11Bukan faiz, yang ada dalam novel ‘Cinta Yang terlambat’ sebagai pemeran tokoh utama di sandingi dengan zest..

Dia adalah faiz… faiz gazi… di ambil dari nama seorang prajurit islam dari persia… kalo dilihat dari namanya, jelas sangat jelas harapan orang tuanya kelak faiz akan menjadi salah satu prajurit islam yang memiliki mental jihad, siap mati syahid.. Aamiin…

Umurnya satu tahun enam bulan Foto disamping diambil pas selesai masyrah akbar di Jakarta 4 january lalu ttg “ganyang Israel”… ma umminya pasti… keren banget, pas masyirah faiz di gendong ma umminya, khawatir kalo faiz jalan sendiri ketinggalan nanti…

itu anak, sering banget ikut masyirah, luar biasanya pas masyirah ga rewel.. emang dah di program ma umminya kek gitu.. jadi ngga aneh walau faiz masih kecil pas ikut masyirah sambil pegang raya’ liwa yg kecil dia teriak ‘Allahu Akbar!!”

Kebisaan faiz saat ini udah bisa bilang “bunda”… ayehayehhayehhyeyyeyeye.. maksudna ‘ayah’…

dah bisa bilang “Allahu akbar…

faiz-masyirah21jika adzan berkumandang, faiz langsung diem, pas umminya bilang ‘berdo’a’.. dua tangannya langsung menengadah jika selesai pastinya di bimbing ma umminya, Aamiin sambil mengusap mukanya… dah bisa gerakan-gerakan shalat ^^ dll ruarrrr biasa…. Mujahid-mujahid kecil… penerasi pejuang islam

Seorang anak itu bertindak bagaimana lingkungan sekitar, yang paling dekat adalah hal-hal yang biasa di lakukan oleh ummi dan aby nya seperti apa… Anak akan melakukan sesuatu hal yang ia lihat, bagi ummi dan abynya, harus memberikan teladan yang baik..

Sungguh tidak aneh, seperti hasan ‘anak kecil berusia 3,5 tahun sudah hafidz’ yang berasal dari Iran… karena aktivitas sehari-hari hasan mengikuti aktivitas ummi dan abynya..

ummi dan abynya hasan, ketika menikah belum menjadi pasangan yang hafidz, tp mereka sudah membuat proram, pada saat umur 23 tahun mereka menikah, setelah itu membuat program tahfidz.. dan ketika hasan lahir, karena memang sudah semejak dari kandungan dan bayi hasan kecil lahir.. umminya selalu membaca, menghafal dan mengkaji.. hasan mengikuti program yang di ikuti oleh kedua orangtuanya.. pada saat usia pernikahan 4 tahun, bertepatan dengan usia mereka menginjak 27 tahun mereka sudah hafidz begitu juga hasan… keren banget…

atau seperti bundanya imam syafi’I, di masa kandungannya kebiasaan beliau adalah tilawah dan shaum daud, dan ketika imam syafi’I lahir, sebelum menyusui imam syafi’I umminya selalu mengambil wudhu dan tilawah.. dan bagaimana pengorbanan ummu fathimah ketika mencari syeikh-syeikh untuk mengajari syafi’I kecil faham akan ‘ilmu agama dan pengetahuan. jadi hebatnya seorang anak, cerdasnya seorang anak, letak dasarnya adalah tergantung pada kedua orang tuanya seperti apa??!! Terutama umminya, seorang ibu adalah madrasah awal bagi anaknya kelak!! Tanggung jawab yang sangat besar!!

Anda ingin kelak, anak anda menjadi seorang hafidz?? Tergantung anda.. tergantung seberapa besar perhatian anda terhadap al qur’an, entah itu membacanya, menghafalnya, dan mengkajinya!! Kemudian di ‘amalkan…

Anda ingin kelak, anak anda menjadi seorang pecinta da’wah… masa kecilnya sudah bisa mengajak kepada kebenaran seperti ‘ali bin abu thalib… menjadi pendamping dan pembela setia Rasul saw yg membawa kebenaran, seperti pada saat da’wah Rasul ke keluarga beliau dan mengajak seluruh keluarga beliau untuk masuk islam dan melindungi da’wah beliau, tak satupun yg menggubris perkataan Rasul kecuali seorang anak kecil dengan gagah berani dia berdiri dan berkata, “Rasulullah, saya akan membantu anda,” “saya adalah lawan siapa saja yang kau tentang!!”…. Ruaarrrrrrr biasa!!

Subahanallah!! Tergantung anda??!!

Anda ingin kelak, anak anda menjadi seorang pecinta ‘ilmu, rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan ‘ilmu, seperti perkataannya ‘Ali bin abu thalib, “siapa saja yang mau mengajarkan saya satu huruf maka saya adalah hamba sahaya baginya”.. atau seperti Syeikh Ali tanthawi yang membaca buku, 100 halaman perhari… atau seperti imam bukhari sebelum beliau menuliskan satu buah hadist beliau mengawalinya dengan shalat istikharah 2 rakaat.. setiap akan menulis hadist pasti di awali dengan shalat istikharah…. Tergantung anda??!!

Anda menginginkan kelak, anak anda memiliki mental jihad fii sabilillah, ahli strategi perang seperti Khalid bin walid ‘sang pahlawan perang mu’tah, terkenal dengan strateginya yg sangat cerdas!’, sa’ad bin abu waqqas ‘pahlawan di perang qadisiyah’, thariq bin ziyad ‘sang penakluk andalusia’… jihad itu tidak hanya sekedar ‘siap mati’ tapi brpikir juga bagaimana strategi, penempatan setiap pasukan, persenjataan, dll… ingat Roma belum di taklukan??

Tergantung anda, tidak hanya ahli pemikiran yang ideologis tapi juga ahli ‘ilmu-ilmu perang, dimulai dari pengetahuannya tentang jihad, sejarah jihad masa lalu, doktrin2 perang setiap Negara, pengetahuan aktivitas militer, persenjataan dll.

Masa depan itu tergantung masa sekarang, saat ini… apa usaha kita, apa strategi kita dalam menjalani hidup..


Bukan Orang Cerdas!

Kelemahan setiap manusia ketika dia berinteraski dengan manusia lainnya adalah ‘palsu’… aduh punten saya ngga menemukan kata yang pas…

Palsu di sini maksud saya, kadang kecenderungan manusia ketika berinteraksi dengan yang lain, pasti dia akan menceritakan seputar dirinya hanya ‘kelebihan-kelebihannya’ atau yang baik-baik nya saja dari dirirnya..
Ketakutan seandainya jika ada orang lain tahu mengenai ‘kekurangannya’… entah lah namanya apa, tapi bagian dari negatif yang ada dalam dirirnya cenderung ‘di tutupi’ lebih fatalnya melakukan atau bertindak sesuatu hal yang ia tidak ketahui karena kadang kondisi menuntut dia untuk bertindak sesuai dengan ‘tekanan’ eksternal….

Bagian negatif bisa dikatakan keadaan secara fisik dan non fisik.. hhmm, standar negatif pun berbeda-beda pada setiap orang.. penyikapannya pun berbeda-beda.. tidak mungkin saya men-generalisasi semuanya seperti itu.. tapi, karena hidup di bawah kungkungan kapitalisme, standar baik buruk di setiap orang kadang cenderung sama.. sebagai mantan ‘penganut’ kebebasan dan ‘orang sekuler’ saya mengamatinya seperti itu.. [sama sekali tidak bangga -_-]

Kekurangan dalam melakukan sesuatu hal cenderung manusia akan menutupinya… khawatir orang lain tahu.. contoh, anda pernah dipercayai untuk melalukan tugas dalam sebuah organisasi, entah itu menjabat sebagai ketua pelaksana, sie acara dll… ketika akan menjelang rapat, dimana seluruh apa yang sudah kita lakukan terkait dengan job akan dimintai perkembangannya, apa saja yang sudah terlaksana, apa sj yang belum, jika belum kenapa?? padahal harus mengejar target, jika tidak bisa jawab, kemana ajah jeng, ngapain ajah selama inih, sibuk banget yah, emang sibuk apa sih? dll.. siapapun dia ketika sedang dalam keadaan tertekan sikap yang muncul adalah defensiv..

Nah, dari sikap defensiv ini kadang seseorang akan melakukan tindakan atau sikap yang namanya pembelaan atas nama klarifikasi lebih kerennya pembenaran….

Di bagian inlah kalau menurut saya, manusia kadang cenderung keblablasan dalam bertindak… bukan kenyataan yang dia certitakan tapi ‘perencanaan’ artinya belum terjadi.. sedangkan situasi menuntut dia untuk menjelaskan ‘kejadian’ yang sudah terjadi bukan ‘kejadian’ yang belum terjadi… palsu lebih kasarnya berbohong… argh serem..
Antara perkataan ma perbuatan jauh berbeda..

Manusia itu cenderung untuk tampil di hadapan orang lain secara perfeksionis walaupun dia belum melakukan sesuatu yang dimintai oleh dirinya dan orang lain bahkan dia tidak sanggup melakukannya.. nah inilah yang saya sebut ‘palsu’ atau bahasa kasarnya membodohi diri sendiri, katakan jika tidak bisa dan katakan ya jika bisa, katakan belum jika memang belum.. beres khan!!

Apa yang dicari?? penilaian orang lain terhadap diri kita?!!!

Manusia itu cenderung untuk menutupi kekurangannya sehingga tidak berkembang. Manusia itu cenderung ingin perfeksionis,menonjolkan kelebihan-kelebihannya, mencari yang ideal, tanpa memahami sekelilingnya… tapi di satu sisi saya melihat inilah yang membuat hidup makin bergairah, mencari sesuatu yang belum di ketahui, mencari sesuatu yang masih bingung, ragu apa yang ingin di capai.. gejolak dalam jiwa yang terpusat dalam pikirannya dan selalu bertanya kepada dirinya, apa?? apa?? bagaimana ini?? Kenapa?? memancing untuk berpikir kritis dan bertindak, inilah hidup.. bersaing dengan diri sendiri itu menggairahkan, mengeksplor diri sendiri itu nikmat nya luar biasa..

Setidaknya kalau saya berpikir mencoba untuk perfeksionis bagi diri saya sendiri dan tentunya di hadapan kekasih sejati saya.. Allaah ‘azza wa jalla
Tidak masalah, lakukan saja seperti itu karena manusia pada dasarnya ingin bebas dan tidak ingin di batasi tapi.. ingat selama tidak melanggar hukum syara’ … lurus, lurus sajalah…

Dan kadang manusia itu cenderung berpusat di masalah, sudah tahu masalah yang ada dalam dirinya tapi lama bertindak untuk memecahkan masalah yang ada dalam dirinya… terrlalu banyak berpikir sehingga ‘masih diam di tempat’…. biasanya kalau keadaan seperti ini karena ada penghalang terbesar dalam dirinya yaitu sifat Malas!!
Antara kelemahan dan kekurangan yang ada dalam diri seseorang itu maknanya berbeda, kekurangan itu tidak sama dengan kelemahan begitu juga sebaliknya..

Kekurangan lebih kepada fakta yang belum ada dalam dirinya, sifatnya bisa permanen atau juga non permanen. Kalau saya menilainya pada ‘kenyataan’ yang ada di seseorang.. Misal : saya belum bisa menyelesaikan sebuah buku yang sedang saya tulis karena kekurangan dari frame of reference dan juga ‘harus muter otak’ karena saya ingin bikin teori baru di dunia psikologi di tambah saya juga pingin mencari bahan bagi buku saya yang lain tentang terorisme intelktual.. belum beres-beres ampe sekarang, karena bingung cari referensinya, dan juga ada hal yang harus di prioritaskan terlebih dahulu, tapi ketika ada orang lain bertanya ke saya perihal buku, maka saya akan menjawabnya sedang dalsam proses, saya tidak akan menceritakan sudah sejauh mana, kalaupun ingin di jawab saya hanya menjawab, do’akan saja.. walaupun sebenarnya untuk kata pengantarnya ajah belum beres, baru bikin targetnya doank, baru latar belakang dan tujuan kenapa saya ingin nulis.. walaupun terbilang waktunya lumayan lama.. inilah kelemahan, sesuatu hal yang belum bisa..

Seperti yang pernah saya ungkapkan, manusia cenderung ingin perfeksionis di hadapan orang lain walaupun tidak seperti apa yang di prasangkakan oleh orang lain… untuk mengatasi hal ini, kembali lagi ke niat awal, dan sering bertanya ke diri sendiri, kenapa saya melakukan hal ini?? Untuk apa?? untuk siapa??

Saya sendiri memang bukan type orang yang suka menceritakan kelemahan2 saya dihadapan orang lain, dalam benak saya sampai saat ini menceritakan kelemahan berarti menjatuhkan harga diri sendiri di hadapan orang, saya lebih senang menceritakan seputar kekurangan saya sehingga orang lain bisa memberikan masukan untuk memperbaiki diri saya..
Tapi kalau kelemahan, entah kenapa tidak!!
Karena manusia cenderung ingin tampil perfeksionis entah bagi dirinya sendiri, di hadapan manusia lainnya, atau di hadapan Tuhan nya…

Tidak masalah, karena saya memandang perfeksionis itu sebagai ‘berlomba untuk berbuat baik’.. tapi selama tidak ‘palsu’ ketika bertindak… artinya ceritakanlah sesuatu yang itu memang kenyataan!! Ceritakanlah kenyataan walaupun membuat dirimu sakit… karena manusia cenderung sangat khawatir jika kekurangannya di ketahui oleh orang lain….

Kembali ke judul di atas, kekurangan saya adalah saya bukan orang cerdas, saya tidak punya niat sama sekali untuk cerdas sesuai dengan definisi cerdas yang ada seperti kondisi saat ini, yaitu akademik!! Orang di katakan cerdas jika akademiknya lancar, lulus S1 ampe S3 dapat kerja dengan bayaran gede, sebuah tekanan eksternal yang membodohi diri sendiri jika dilakukan tanpa kesadaran yang sebenarnya!!
Sebagai sebuah ekspresi akan kekecewaan besar pendidikan saat ini.. mendidik seseorang bukan untuk menjadi ‘tuan’ tapi ‘buruh’…

Satu kelemahan yang ingin saya ceritakan [karena ini ngga terlalu merendahkan harga diri saya^^] saya takut mencewakan orang di sekitar saya, membuat mereka kecewa atas kekurangan yang saya miliki… makanya saya lebih senang menceritakan kekurangan sehingga mereka tahu keadaan saya dan jangan banyak berharap pada diri yang dhaif ini.. karena khawatir tidak sesuai dengan harapan maka hati mereka akan kecewa.. idealis boleh tapi realistis!!! Rasanya saya juga ingin teriak, saya tidak sesempurna seperti apa yang kalian lihat.. banyak kekurangan yang tertutupi..

i am just only human

memiliki hubungan interpersonal dengan orang lain dan hanya menceritakan seputar kelebihan… tidak akan berkembang… justru kita akan berkembang ketika kita tahu apa kekuarangan kita dan orang lain memberi masukan untuk memperbaiki kekurangan kita…
bukan malaikat yang suci dari melakukan kesalahan…
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.

Keinginan terbesar saya saat ini adalah keluar dari lingkaran yang mendogma, mengeluarkan diri ini dari keinginan yang semu, menghancurkan hasrat yang membius diri tanpa bertindak…

pemikiran yang ada dalam pikiran saya yang menggerakan keinginanan itu sendiri jika tidak di seriuskan atau bersungguh-sungguh untuk di lakukan dalam suatu action maka selamanya hanya akan menjelma menjadi ‘omong kosong’, panjang angan-angan!! Manis di bibir!!! Kalau saya berpikir ini susah, dan ngga mencoba, yah selamanya akan susah! Segala sesuatu itu tidak ada yang mudah tapi bukan berarti susah..
Tidak berguna!!

Dan ingin mengeluarkan diri ini untuk keluar dari ‘keadaan yang hanya berkutat di permasalahan’..
fokus solusi!! Keluar dari kebingungan!! Action!!
Sekali lagi saya bukan orang cerdas… saya hanya berusaha berpikir untuk kritis terhadap keadaan sekitar… tegas dan jelas dalam menghadapi permasalahan!!


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.