Arsip Kategori: about Psikology

Psikologi Ikhwan-Akhwat

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sbesar.
Al Ahzab :35

Semenjak allah ‘azza wa jalla menciptakan nabi adam as seorang diri kemudian diciptakannya Hawa sebagai pendamping untuk menghancurkan rasa kesepian nabi adam ketika berada di surga, yang diciptakan dari tulang rusuk beliau. Sehingga munculah hadist “perempuan itu diciptakan dari tulang rusuknya laki-laki”.

Dari dulu sampai sekarang hanya ada dua kategori manusia yang memiliki jenis kelamnin laki-aki dan perempuan saja.

Secara struktur bilogis ikhwan dan akhwat amat sangat berbeda sehingga dalam pengklasifikasian peran, hak dan kewajiban antara ikhwan dan akhwat pun berbeda satu sama lain. namun perbedaan ini tidal lantas di artikan adanya diskriminasi satu sama lain. islam eist solung

Di dalam islam antara laki-laki dan perempuan adalah setara. Islam menjelaskan secara gamblang dan akurat tentang peran kaum laki-laki dan perempuan dalam kehidupan ini, serta memberikan pedoman yang rinci tentang bagaimana seharusnya mereka berinteraksi antara satu dengan yang lain dalam setiap aspek kehidupan. Penjelasan dan pembagian peran ini langsung berasal dari Allah Swt, Sang Pencipta manusia.

Interaksi yang dibangun antara ikhwan dan akhwat adalah interaksi yang dibolehkan secara syara’, misal dalam konteks pendidikan, kesehatan dan muamalah. Interaksi inipun tidak lain adalah kerjasama demi terwujudnya sebuah peradaban agung yaitu peradaban islam.

Kadang, Seringkali ketika terjadi miss comunication di dua mahluk ini bukan karena “sering atau tidak seringnya” ketika berkomunikasi. Tetapi isi dari komunikasi yang terjalin, akan tetapi memang sangat tidak mudah ketika menjalin komunikasi anatara ikhwan dan akhwat sehingga komunikasi yang terjalin itu efekif kecuali belajar untuk memahami lawan jenis dengan berinteraksi, tapi dengan catatan seperlunya saja dan tetep kudu syar’i.

Oke, saya mencoba untuk sedikit meneliti permasalahan-permasalahan yang biasanya timbul ketika menjalin hubungan interpersonal ikhwan dan akhwat adalah karena “ komunikasi” yang meliputi kontent, cara berkomunikasi, benturan sifat/karakter satu sama lain, beda prinsip dll. Komunikasi itu meliputi bahasa verbal maupun non verbal.

Nah sebelum ke arah “komunikasinya” saya akan bahas sedikit pandangan dari sisi psikologis ikhwan dan akwat. Karena, terkadang kenapa biasanya ada kesalahpahaman dan penyikapan yang salah di kedua belah pihak, bisa jadi satu sama lain belum mengetahui “seperti apa” keadaan, fakta, pengetahuan antara ikhwan dan akhwat (sifat/ karakter yang umum) tentu dalam konteks yang global.

Ikhwan – plEaSe hArgai guE!!-
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oeh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
An Nisa : 34

Dalam ayat ini Allaah ‘azza wa jalla memberikan sifat Qawamah (kepemimpinan) kepada ikhwan, dan qunut (ketaatan) kepada akhwat. Hal ini menunjukan bahwa fungsi ikhwan adalah memimpin dan kewajiban akhwat adalah taat (lihat Al qurthubi dalam al Jami’ Liahkamil Qur’an 14/179)

Kenapa saya memberikan semacam clue “please hargai gue!!”, tanpa bermaksud sotoy nii kepada para ikhwan ^^. Kalimat ini mungkin sering muncul di benak ikhwan baik dalam konteks dia sebagai anak, peran dia di lembaga dakwah, dunia pekerjaan dan sebagai suami. Kalimat ini sangat erat indikasinya tentang masalah “kepemimpinan” yang sedang ia pimpin. Setiap keputusan-keputusan yang di keluarkan baik konteksnya dia sebagai anak, suami dan anggota masyarakat ingin keputusannya itu “di hargai” bukan dalam konteks mengemis untuk dihargai.

Tapi memang secara tabiat ikhwan lebih senang dan sangat menghargai kepada siapapun ketika dia dihargai dalam hal apapun!! Makanya sangat mudah untuk membuat ayah saya senang dengan seketika ketika beliau sedang marah, hanya cukup dengan “menampakan wajah manis (alah..)” dan untuk menghargai beliau dengan apa yang sudah beliau berikan, cukup dengan tersenyum dan say “nuhun” walaupun belum sesuai harapan (nah, nanti di bahas pas bagian akhwat kenapa rata2 akhwat susah untuk menerima lebih tepatnya suka mengoreksi terlebih dahulu dengan sesuatu yang ada di hadapannya)

mungkin beda-beda setiap karakter kaum laki-laki tapi rata-rata sama. Sudah tabiat ikhwan ketika berkomunikasi tidak banyak bicara, tidak suka di dikte, tidak suka bicara panjang lebar, tidak suka dengan orang yang cerewet, susah untuk mengatakan “saya tidak tahu”(tergantung), susah mengungkapkan sesuatu, keras kepala, egois yang tinggi, tidak suka digurui (kamu tuh kaya gini.. bla..bla..), tidak senang di koreksi secara membabi buta, pantang menyerah, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang diinginkannya(tergantung), tidak sabaran (tergantung), tidak ingin diragukan kepercayaan yang diberikan kepada siapapun artinya tidak suka jika ada yang meragukan apa yang ia berikan,de el el.

Secara tabiat juga, ikhwan dalam bersikap lebih menggunakan perangkat akal/logika dibandingkan perasaan dan Mudah untuk melupakan sesuatu dan terkadang Sulit untuk memulai dari awal, jarang menangis/susah untuk menangis tapi sekali menangis justru menghawatirkan.

Akhwat –pLeAsE ngErtiiN gUe!!-
Saya berusaha untuk berpikir objektif sehingga melihat kedua belah pihak tidak bersikap “memihak dan membela (statusnya bukan lawer disinih)”, tujuan tulisan ini pun hanya ingin memberikan gambaran tentang permasalahan yang biasanya muncul dalam hubungan interpersonal ikhwan-akhwat baik dalam konteks personal, lembaga dakwah, anggota masyarakat, dan sikap apa yang seharusnya di ambil! Tentu dalam konteks yang global dan bahasannya tetep syar’i.

“orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada istriku”
HR At Tirmidzi, Abu Dawud dan Ad Darimi

Ada beberapa hadist yang menceritakan tentang “bagaimana” seharusnya sikap ikhwan dalam bersikap dan menyikapi sikap akhwat. Kalau Hadist yang di atas lebih tepatnya sebagai “rambu” yang rasul saw berikan untuk kaum adam agar dalam bersikap kepada istrinya dengan penyikapan yang benar dan hati-hati.

Saya sering bertanya(bukan mempertanyakan!!) ke diri sendiri, kenapa aturan mulai dari al Qur’an dan hadist banyak sekali menceritakan tentang akhwat?? Ternyata, pas di telusuri wajar, sangat wajar luar biasa islam itu agama yang sangat memuliakan seorang wanita. Jangan kira bidadari itu hanya terdiri dari “bidadari langsung!” tapi dari kalangan wanita dunia yang beriman pun ada! (silahkan liat tafsir imam jalalain)

Oke, saya teringat sebuah hadist “jangan mencela (mencaci) nya, dan jangan mendiamkannya kecuali di rumah”  (HR Abu Dawud dan Ahmad),

hadist ini memerintahkan kepada para suami untuk memperhatikan hak-hak istri agar para suami bersikap lemah lembut dan memperlakukan istri dengan makruf (menurut al munawi)

Hadist ini juga berlaku bagi ikhwan ke akhwat dalam konteks yang umum juga, karena secara tabi’i akhwat sangat senang mendengar sesuatu yang “indah” terutama perkataan makanya di haidst nabi jangan mencelanya artinya bersikap lembutlah kepada akhwat baik dengan perbuatan maupun dengan kata-kata! Karena jika tidak jangan aneh ketika melihat akhwat di caci satu kata maka ia akan membalas 1000 kata cacian terhadap orang yang mencacinya tadi! Di koreksi satu kata maka ia kan balik menkoreksi 1000 kata!! Mendengar kata-kata yang kasar itu lebih sakit dibanding dengan dikasari dengan sikap (tergantung)!! Mohon pahami ini udah tabiat (kecuali bagi yang bisa mengendalikan diri). Dan ketika akhwat mendengar sesuatu yang berupa, “pujian, do’a, kata-kata yang indah, syair kalimat-kalimat emosional” maka ia akan sangat senang dan akan bersikap menghargai siapapun yang bisa memahami dan mengerti keadaan dia. Makanya saya kasih clue, plEaSe ngErtiiN gUe!! Ini kalimat mengandung indikasi bagi akhwat ketika ada masalah dengan orang, pasti yang pertama timbul di benak kenapa ga bisa ngertiin gUe sii??..

Jangan mendiamkannya kecuali di rumah ini bermaksud akhwat sangat tidak suka tidak diacuhkan (diperhatikan, red) akhwat paling tidak suka tidak di acuhkan ketika dalam kehidupan luar rumah, entah itu organisasi, perkuliahan (statusnya ketika ngejar dosen untuk bimbingan, kasih tugas, minta perbaikan nilai dll), ini konteksnya global mau itu akhwat ke ikhwan atau kesesama akhwat.

Tapi tidak menutup kemungkinan juga karakter akhwat itu beda-beda tapi hampir rata-rata sama, ketika berkomunikasi lebih vokal, ahli bahasa verbal maupun non verbal, lebih emosional, mudah ekspresi, sulit melupakan tapi mudah melupakan, butuh pendengar, lebih menggunakan aspek perasann (wajar, terkait dengan fungsinya sebagai seorang ibu), kalau ikhwan pingin di hargai kalau akhwat lebih ingin di perhatikan dan di mengerti. Mudah bersabar, argumentatif, detail-isme, de el el.

Ikhwan – akhwat “antara langit dan bumi”
Jalaludin Rumi mengatakan ikhwan-akhwat bagaikan langit dan bumi, apa yang terlintas dalam benak anda?? pasti jauh sangat jauh berbeda(dengan berbagai macam perbedaannya), kalau saya memandang bukan fakta perbedaannya yang menyebabkan menjadi berpikir “jauh”, saya tidak memandang dari sisi perbedaan karena memang tanpa kita pandangpun memang berbeda dan memang sudah takdir untuk berbeda.

But, U ever thingking?? Langit ketika hujan dan airnya jatuh ke bumi sehingga bumi tadi bisa menghasilkan tanaman-tanaman. Bumi bisa menghasilkan sesuatu karena ada air yang jatuh dari langit. Memang sudah aturannya seperti itu.

Begitu juga ikhwan-akhwat, kekurangan ikhwan itu di tutupi oleh kelebihan yang akhwat miliki begitu juga sebaliknya. Saling melengkapi.

Benak kusut
Permasalahan yang sering kali muncul antara ikhwan-akhwat dalam hubungan interpersonal baik statusnya sebagai sesama anggota dakwah, anak kuiahan, dunia pekerjaan, sebagai salah satu anggota keluarga dan anggota masyarakat. Biasanya yang sering terjadi pasti karena, miss komunikasi, jarang komunikasi (rapat kaga jalan) sehingga terjadi lose kontrol sehingga menyebabkan komunikasi satu arah, adanya pembelaan dan klarifikasi, komunikasi kek perang  ofensiv dan defensiv, ini dalam konteks ikhwan-akhwat yang ada dalam sebuah lembaga dakwah (saya ambil kehidupan yang global). Intinya mah komunikasi!! Corak komunikasi yang dibangun, isi atau kontent komunikasi yang dijalin!!

Saya ambil contoh, ada seorang akhwat secara karakter dia sangat serius dalam bersikap terutama masalah hubungan ke arah yang serius, tiba-tiba ada ikhwan yang siap untuk mengkhitbahnya, nah tanpa di sadari ikhwan tadi mengungkapkan “kalimat” yang begitu meninggikan dari keadaan akhwat tadi lewat kata-kata seperti, “ukhti saya siap menikahi ukhti dan saya harap ukhti menerima pinagangan saya dan saya akan menbahagiakan ukhti”.

Hhmm, apa yang ada di pikiran kalian?? Keknya si ikhwan tadi di terima karena secara psikologis akhwat itu lebih senang dipuji dan mendengarkan kata-kata yang indah.

Sayang sekali, akhwat tadi menolaknya. Saya ga akan bahas kenapa-napanya, tapi intinya adalah corak komunikasi yang dibangun dan kondisi psikologi komunikan. Memang secara psikolgis akhwat senang mendengar kata-kata indah, tapi itu lantas tidak menjadi jaminan ia akan bersikap atau merespon baik dari yang kita kira.

Corak komunikasi yang kalau saya menilai bisa diandasi oleh beberapa hal, yang pertama sebagai ekspektasi dari gharizah bisa nau’ contohnya kek di atas tadi, bisa juga baqa’ mungkin seperti kalimat, “ukhti bisa kita ketemu berdua untuk membicarakan khitbahan saya (baqa’ yang dilandasi hawa nafsu sehingga kurang berpikir jernih dan menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai), yang terakhir dari gharizah tadayyun seperti “maukah ukhti menjadi bidadari dunia yang kelak akan melahirkan mujahid/ah generasi pejuang islam, bersama-sama menguatkan keimanan, membangun keluarga yang ideologis?? (alah..)

Heuheu.. saya suka ketawa sendiri kalau nulis kek ginih, btw bukan ini yang ingin saya tunjukan!!

Kembali ke corak komunikasi, yang kalau saya menilai contoh-contoh kek diatas lebih kepada corak komunikasi yang dibangun atas landasan gharizah. Bukan corak komunikasi yang dilandasi atas pemahaman yang diharapkan bisa membangun pemikiran bersama sehingga yang perlu diperhatikan adalah metode dan data penelaahannya walaupun ini menyangkut urusan hati. Sehingga akan ada penyikapan yang benar.

Corak/landasan komunikasi yang dilandasi dari akal/pemahaman yang tujuannya diharapkan akan membangun pemikiran bersama itu lebih abadi dibandingkan corak komunikasi yang dilandasi atas gharizah.karena gharizah akan berubah-ubah tergantung rangsangannya. Tapi memang, ketika kita berinteraksi itu sebagai pemenuhan atas naluri tapi yang saya maksud itu adalah “kecenderungannya”, perangkat mana yang akan ia pakai, perasaan/emosnya kahi?? Atau akalnya??

Manusia itu terdiri dari akal dan emosi bukan dipisahkan akan tetapi kedua perangkat itu memang ada di dalam manusia itu sendiri. diharapkan ketika bersikap atau membuat keputusan pemahaman/akallah disini cenderung untuk didahulukan dibandingkan perasaan atau emosi.

Benak lurus –memasangkan langit dan bumi-
Oke, seperti apakah misal seseorang yang lebih mengedepankan akal/pemahaman yang diharapkan akan membangun pemikiran bersama dengan memperhatikan metode penelaahannya, sehingga muncul sikap yang benar!! Termasuk urusan hati (alah lagi)

Jangan aneh ketika melihat ikhwan yang secara perangai kasar, keras kepala, dingin, dan bukan sifatnya ketika ia harus bersikap lembut pada seorang akhwat (bisa ibunya atau juga istrinya, adik perempuannya) berarti dia telah mengamalkan hadist nabi saw di atas sebagaimana Umar bin Khatab r.a. bersikap lemah lembut kepada istrinya, mendengarkan setiap keluhan istrinya (cerewet, red), sikap Umar ketika turun ayat An Nisaa :3 yang membatasi jumlah akhwat untuk dipoligami maka Umar menceraikan istri-istrinya yang cantik kecuali istri yang secara fisik biasa saja tapi apa perkataan Umar, “saya khawatir kecantikan istri2 saya bisa melalaikan iabadah saya terhadap Allaah ‘azza wa jalla dan saya lebih senang memilih istri yang cerewet agar mengingatkan saya untuk beribadah terus”.. itulah Umar yang memiliki perangai yang kasar dan keras kepala lagi dingin akan tetapi dapat bersikap lemah lembut terhadap istrinya.

Dan jangan aneh pula ketika ada seorang akhwat yang lebih memilih untuk bersikap sabar dan mengerti terhadap sikap dari ikhwan (bisa ayahnya, kakak, suaminya, teman lembaga dakwah) ketika ikhwan tadi belum bisa bersikap lemah lembut, masih bersikap kasar dan dingin. Akhwat tadi tidak menuntut untuk sikap yang seharusnya tapi lebih memilih untuk mengerti dan bersabar, menunggu hingga suatu saat nanti pasti ia bisa mengamalkan hadist Nabi Saw di samping ia senantiasa mengingatkan, Berarti akhwat tadi seperti laksana Ummu sulaim r.a. sahabiyah yang masuk islam awal ketika ummu di persunting oleh abu Talhah r.a.yang ia masih dalam keadaan kafir akan tetapi ummu sama sekali tidak menolaknya (pastinya secara perasaan, setiap akhwat menginginkan suami yang unggul terutama dari segi keimanan agar dapat membingbingnya). Ummu hanya mengatakan tanpa perkataan yang mendikte dan menuntut, “aku mau menjadi pendampingmu jika kau masuk islam , dan aku rela islam sebagai maharku” ummu seketika menjadi jalan “cahaya” keislaman Abu Talhah r.a. yang kelak Abu menjadi salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga(semoga allaah memberikan rahmat kepada para sahabat Nabi)

terpikirkankah oleh kita seorang Abu mantan orang kafir yang memerangi Nabi dulunya bisa menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga?? luar biasa peran Ummu…

Sahabat-sahabat semua, dalam teori yang saya curahkan dalam tulisan ini, bisa saja salah!(karena setiap orang punya teori dan punya sisi psiko masing2 sehingga memunculkan pandangan yang berbeda-beda, yang salah adalah jika pandangan itu berdasarkan asumsi/prasangkaan belaka)

hanya saja, saya memandang antara laki-laki dan wanita memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak sama. Sehingga dari setiap kekurangan dapat kita terima dengan lapang dada dan ikhlas sebagaimana kita bisa dengan mudahnya menerima kelebihan orang lain.

Dua manusia ini tidak akan pernah cocok dan sama selamanya sampai mati!! Karena memang di takdirkan untuk tidak bisa sama dan mustahil untuk dipaksakan bisa sama karena kedua-duanya adalah berbeda!! Tidak ada istilah cocok atau tidak cocok antara ikhwan dan akhwat yang ada adalah “bagaimana” bisa mencocokakan diri!! Tapi ini juga mustahil berarti kita menjadi orang lain bukan diri sendiri, kita mengerjar sesuatu demi kepuasan hawa nafsu..

Contoh kecil adalah orang tua, jujur saja, saya dalam keluarga terdapat banyak sekali karakter dan sifat yang sama sekali berbeda, kesukaan, kesenangan yang sama sekali berbeda.

Orang tua saya tahu dan mengerti akan perbedaan ini, tapi perbedaan ini tidak lantas mencari tahu apa parameter persamaan(saya cenderung menilai ini lebih menggunakan perangkat perasaan)!! Sehingga perbedaan itu akan harmonis, bukan itu!! Sungguh bukan itu!! Kalau seandainya semua orang tua berpikir seperti itu pasti akan ada pemutusan hubungan antara orangtua dan anak, ada “sesuatu” yang melebihi hanya sekedar membuat “parameter” karena jika manusia yang menentukan parameter ini pastinya akan berubah-ubah!!

So apakah itu??
“Sikap tulus” yang lahir dari keimanan kepada sang Al Khaliq itulah yang melahirkan sikap saling mengerti dan memahami keadaan lawan kita.. yah, sikap tulus yang akan melahirkan sikap yang tidak banyak menuntut, sikap menerima apa adanya dalam artian hargai dia sebagai manusia yang layak dihargai walaupun ketika ia berbuat salah disamping telah menasehati, dan sikap saling memahami.

sikap tulus dapat juga diartian lahir dari cara berpikir untuk dapat “menerima”, menerima tidaklah berarti menyetujui semua perilaku orang lain atau rela menanggung akibat dari perilaku oarng lain. menerima tidak berarti menilai pribadi orang berdasarkan perilakunya yang tidak kita senangi, betapapun jeleknya perilaku menurut persepsi kita. jika tidak ada sikap ini maka yang ada adalah mengkritik (secara psikologis akhwat sangat kental dengan sikap ini, tapi sikap menkritik ini bukan lahir dari sikap untuk meremdahkan, sama sekali tidak!! tapi lebih ke arah sikap tegas melindungi diri dari sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum syara’), dan mengecam buta.

Sikap tulus yang lahir dari pikiran jernih. Ini yang saya maksud membangun pemikiran bersama sehingga objektif. Sehingga komunikasi yang dijalin akan sehat dan efektif. Karena corak atau isi komunikasi yang dibangun berdasarkan kecenderungan ia menggunakan perangkat akal bukan emosi atau perasaan. Sehingga lagi, akan muncul sikap “saling” saling mengerti, memahami, menasehati, mengingatkan dll. Jika terjadi perselisihan di kembalikan lagi kepada landasan yang menjadi corak komunikasi yang tujuannya membangun pemikiran bersama dan kembalikan setiap perselisihan itu adalah hukum syara’ sebagai “source of solution”!!

Cat : tulisan ini konteksnya umum


Why Men Don’t Listen And Women Can’t Stop Talking??!!!

Beberapa hari ini saya menukan ‘teori ilmiah’ tentang ‘dunia akhwat dan ikhwan’ di berbagai buku ‘ilmu komunikasi’ yang sedang saya pelajari… sesuai dengan judul diatas, saya mengutip ‘teori biologis’ yang mempengaruhi sifat akhwat… di bukunya mba Sarah Why Men Don’t Listen And Women Can’t Stop Talking?
Dalam struktur otak wanita,kemampuan untuk berbicara terutama di bagian depan otak wanita kiri dan sebagian kecil di otak sebelah kanan. Sementara untuk pria, kemampuan bericara dan bahasa itu bukan kemampuan otak yang kiritis, adanya hanya ada di otak kiri dan tidak ada di area yang spesifik. Jadi,jangan heran jika wanita suka berbicara dan banyak yang di bicarakan Karena kedua belah otaknya mampu bekerja sekaligus… jadi kenapa kebanyakan akhwat itu cerewt karena wajar, otaknya bekerja seperti itu….
saya teringat dengan musrifah saya yang mengatakan.. :suami saya bilang, akhwat itu sebenarnya tahu bagaimana cara menyelesaikan masalahnya sendiri walaupun ketika dia punya masalah dia harus bicara panjang-lebar ke seseorang untuk diajak bicara…akhwat itu hanya butuh pendengar!!
Salah satu teman saya mengatakan, untuk mengenali akhwat itu mudah, jika dia banyak bicara berarti dia ‘tidak punya masalah’ kalo diam berarti ini akhwat ada masalah.. J  sedikit benar…  dalam kehidupan saya pun, dan ketika mendapai fakta ini di tengah-tengah teman saya… saya menilai bagi akhwat mabda’iy ketika telah mendapatkan ‘hal-hal baru’, informasi sampai masalah maka, sebenarnya dia tahu solusi dan kesimpulan hanya saja dia butuh seseorang untuk diajak bicara, seperti kata suami Musrifah saya, akhwat itu hanya butuh pendengar’… that’s right… tapi tidak musykil juga ketika dia mendengarkan pendapat atau saran dari lawan bicaranya…

Otak pria mampu memilah-milah mana informasi yang masuk di malam hari setelah seharian penuh, pria bisa menyimpan semua aktivitas di otaknya. Sementara otak wanita tidak bekerja seperti itu, informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam otaknya dan tidak akan berhenti sampai dia bisa mencurahkan segala isi otaknya
oleh sebab itu, tujuan wanita ketika berbicara adalah mengeluarkan uneg-unegnya, bukan untuk mencari kesimpulan atau bahkan solusi…….
wanita juga membangun hubungan interpersonal lewat pembicaraan. Rata-rata wanita berbicara dengan kosakata hampir 20 ribu perhari..’ wajar khan kalo akhwat itu cerewet’…  .  Saya pun pernah mengalami.. walaupun sudah beraktivitas seharian penuh, namun ketika pulang ke kosan dan bertemu salah satu sahabat saya… maka saya akan menceritakan apa-apa saja yang saya dapati pada hari itu.. berarti saya pada hari itu sebelum samapi ke kosan, saya belum menghabiskan 20 ribu kosakata… jadi saya lampiaskan di Kosan ampe saya cape kalo udah cape ya… tidurrrr J…. sedangkan sahabat saya, menanggapi apa yang saya sampaikan… ceritanya emang pada waktu itu saya sedang ada masalah…  bagi akhwat kadang suasana hati itu sangat mempengaruhi aktivitas yang akan dilakuakan…. tapi tidak selamanya…
jadi teringat kejadian yang lucu,ketika saya pulang keRancaekek, naik angkot. Di dalam angkot itu ada penumpang ”Bapak-Bapak” beliau bekerka sebagi Satpam, mayanya beliau  habis pulang kerja, kemudian naiklah 2 orang wanita [sepertinya orang jawa].. 2 wanita ini, duduk di deket pintu yang mau turun.. selama naik 2 wanita ini terus berbicara  dalam bahsa jawa…..  [ampe telinga saya juga pusing,ngedengerinnya].. tiba-tiba Bapak tadi langsung teriak ”pindah kamu,kamu pindah kesana…dari tadi ngomong terus,ngga diem”…. JJ lucu khan… yang lebih lucu lagi setelah 2 wanita tadi pindah, obrolan mereka dilanjutkan…

bagaimana dengan pria? Nah bagi pria hanya butuh sekitar 7 ribu kata perhari ini kelihatan pas malam… saya juga ngga tahu persis.. penelitian membuktikan seperti ini… jadi kalo pria selama seharian dia sudah berbicara sekitar 7 ribu kata perhari maka dia ngga akan mood lagi untuk berbicara dan lebih memilih tidur ato nontonTV….. kalo saya melihat ayah saya sendiri sehabis pulang kerja beliau lebih suka nonton Tv, ato baca Koran dibanding ngobrol dengan anggota keluarga…. berarti 7 ribu tadi sudah digunakan….  beerbeda dengan wanita, jika 20 ribu kata belum digunakan, ngga peduli udah malem pasti pinggin ngobrol… kebayang kalo wanita aktivitasnya hanya di rumah dan baru menggunakan kata sebanyak 3 ribu, berarti masih ada 17 ribu kata lagi???…  tapi ketang, itu khan menurut penelitian, bisa saja tidak sepenuhnya benar,, kalo saya sendiri jika ada hari libur, tidak ada kegiatan untuk keluar kosan ato rumah maka saya lebih suka menghabiskan untuk membaca, berfikir dan menulis :P … ehh…menulis juga sebagai tempat”mencurahkan kata-kata juga yahhhh……

di bukunya pak Dedy Mulyana ‘Nuansa-Nuansa Komunikasi’…  dituliskan bahwa wanita lebih unggul dalam mengekspresikan  sesuatu baik secara verbal maupun non verbal [ekspresi wajah, bahasa tubuh, perhatian, simpati dll]…. wajar kalo digabungin dengan teori yang diatas kenapa bisa, karena akhwat memilki kosakata yang lebih banyak dari pada ikhwan…

oh ya, satu teori lagi berdasarkan penelitian ‘pribadi’ yang memang pernah berinteraksi ‘dalam sebuah organisasi’ dengan ikhwan…. dan berdasarkan ‘penuturan Musrifah saya’….
pernah lihat iklan ‘perempuan’? lahhh, iklan perempuan khan banyak….. arrggghhhh saya lupa judulnye apa… tapi di iklan itu mengatakan “enak yahhh, jadi cewe bisa ngelakuin pekerjaan,di waktu yang sama    bisa ngelakuin pekerjaan yang lain”…. maksudnya, di akhwat eta teuh, bisa ngelakuin 2 pekerjaan sekaligus…. misal, lagi nyetrika pada saat yang sama bisa baca, ato ngerapiin buku di kamar, ato nge-SMS…  nah, kalo di organisasi akhwat itu “multi talenta” di satu sisi, dia bisa mikirin konsep dan pada saat yang sama bisa mikirin ampe ke tataran teknis… wajar… karena pesan yang sampe k e otak akhwat masuk ke bagian depan otak wanita kiri dan sebagian kecil di otak sebelah kanan (dua otak loh)…    sehingga wajar Karena kedua belah otaknya mampu bekerja sekaligus….

berbeda dengan ikhwan, kata suami Musrifah saya, di ikhwan itu tidak bisa memikirkan atau melakukan pekerjaan pada dua hal yang berbeda…  jika sudah dikasih untuk “mikirin” konsep maka ikhwan hanya akan fokus di hal yang tadi dan jarang akan berfikir ampe tataran teknis… kadang terlupakan…. wajar karena, pesan yang sampai masuk ke otak kiri dan tidak ada di area yang spesifik….

menurut saya, ikhwan dan akhwat adalah dua makhluq yang istimewa…  saling memiliki ke-istimewaan yang tidak sama……   yang harus kita fikirkan adalah ketika melakukan hubungan interpersonal dengan ikhwan  ato akhwat agar ada sikap saling ‘mengerti dan menerima’ dalam konteks saling bekerja sama dalam melakukan kebaikan… tentu berdasarkan hukum syara’……

‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Al ahzab; 35

Ayat ini…… luarrrrr biasa keren  ‘subhanallah’… janji allaah ‘azza wa jalla!!! Janji allaah akan setiap hambanya yang berharap dengan takut dan cemas..


Bagaimana “Menjembatani” Dua Kognisi Yang Berbeda?

Dalam Psikology Komunikasi di kenal dengan istilah Kognisi [pengetahuan]. Setiap orang pastinya memiliki kadar dan kualitas pengetahuan yang berbeda-beda mengenai sesuatu hal. Tergantung cara pandang seseorang dalam menyikapi setiap pemikiran orang lain yang berbeda dengan dirinya…

Point of view   Bagaimana “Menjembatani” Dua Kognisi Yang Berbeda?

  1. Ada sikap untuk saling terbuka satu sama lain, jujur.
  2. Saling mengerti, memahami dan berfikir “tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna
  3. berusaha untuk mengungkapkan presepsi/kognisi  yang dimiliki
  4. memiliki “standar” yang sama dalam menilai setiap “pandangan” dari  presepsi  tentu berstandarkan pada islam… bagaimana islam memandang setiap presepsi yang dimiliki
  5. menonjolkan persamaan di bandngkan dengan perbedaan


Phschilogy Of Comunication [1]

“….. dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang berbekas pada jiwa mereka”

Q.s. An Nisaa ; 6

Al qur’an merupakan sarana komunikasi antara hamba dengan tuhannya, selain berisi petunjuk bagi segenap manusia yang di turunkan melalui kekasih pilihannya Rasul Muhammad Saw.. ketika seorang hamba Shalat menyebutkan setiap bacaan rukun Shalat, hamba tadi sedang berkomunikasi dengan allaah ‘azza wa jalla.. allaah akan senang dengan hamba-Nya ketika dia melakukan Shalat dengan Khusyu dan mengerti apa yang di ucapkannya “Comunication Between person and God”.. do’a yang indah di tengah malam yang di panjatkan oleh seorang hamba kepada Allaah berarti dia sedang berkomunikasi dengan allaah, merayu agar sekiranya Allaah berkenan mengabulkan do’anya..

Komunikasi ada di mana-mana, kita berdo’a itu adalah komunikasi, presentasi di hadapan dosen dan mahasiswa, dosen menerangkan mata kuliah, ketika da’i sedang ceramah, seorang penyair membacakan syair-syairnya, seorang pecinta mengungkapkan rindunya kepada sang kekasih pujaannya dll. Komunikasi menyentuh segala aspek kehidupan kita. Penelitian mengungkapkan bahwa 70% waktu bangun kita di gunakan untuk berkomunikasi, Komunikasi menentukan Kualitas hidup kita.

Dengan komunikasi kita dapat membentuk saling pengertian, menumbuhkan persahabatan, memelihara kaish sayang, menyebarkan pengetahuan dan melestarikan peradaban. Hubungan individu dengan individu lainnya dapat membaik ataupun memburuk karena Komunikasi, hubungan membaik berarti Komunikasi yang di lakukan berjalan efektif. Bagaimana tanda-tanda Komunikasi yang efektif? Komunikasi yang efektif paling tidak menimbulkan lima hal: pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan yang makin baik, dan tindakan.

Hubungan kita dengan sesama manusia dapat di tingkatkan dengan memahami dan memperbaiki komunikasi yang kita lakukan. Kita dapat mempelajari tinjauan tentang komunikasi, plus Psikology. Psikology menukik ke dalam proses yang mempengaruhi perilaku kita dalam komunikasi. Psikology melihat Komunikasi sabagai perilaku manusiawi, menarik dan melibatkan siapa saja dan di mana saja. Psikology Komunikasi berkenaan dengan setiap orang.

I. Definisi Psikology Komunikasi

Definisi Komunikasi sangat banyak, ada yang mendefinisikan Komunikasi sebanyak 164 definisi seperti Kroeber dan Kluckhohn [1957], Dance [1970] menghimpun tidak kurang dari 98 definisi. Definisi tersebut di latarbelakangi dengan berbagai prespektif; mekanistik, sosiologistis dan psikologistis. Komunikasi dalam kerangka Psikology mempunyai makna yang luas, meliputi segala penyampaian energi, gelombang suara, tanda di antara tempat sistem atau organisme. Kata komunikasi sendiri sering di gunakan sebagai proses, sebagai pesan, sebagai pengaruh.

Psikology menyebutut komunikasi pada penyampaian energi alat-alat indera ke otak, pada peristiwa penerimaan dan pengolahan informasi, pada proses saling pengaruh di antara berbagai sistem dalam diri organisme dan di antara organisme. Ketika anda membaca tulisan ini, retina mata anda yang terdiri dari 12 juta sel saraf lebih bereaksi pada cahaya dan menyampaikan pesan pada cabang-cabang saraf yang menyambungkan mata dengan saraf optik, saraf optik menyambungkan implus-implus saraf ke otak. Sepuluh sampai 14 juta sel pada otak anda, di sebut neuron, dendrit adalah penerima informasi . soma mengolah informasi dan menggabungkannya. Axon adalah kabel miniatur yang menyampaikan informasi dari alat indera ke otak, otak ke otot, atau dari neuron satu kepada yang lain. di ujung axon terdapatlah serangkaian knop [terminal Knobs] yang melanjutkan informasi itu. Psikolog menyebut ini sebagai proses komunikasi. Prosesnya memang tidak berbeda dengan sistem telekomunikasi dengan terminal-terminal relay dan dilengkapi dengan komputer.

Psikolog tidak hanya membahas komunikasi di antara neuron, Psikolog mencoba menganalisis seluruh komponen yang terlibat dalam komunikasi, pada diri Komunikan “peserta komunikasi”, Psikolog memberikan karakterisistik manusia Komunikan serta faktor-faktor internal maupun eksternal yang mempengaruhi perilaku komunikasinya. Pada komunikator psikologi melacak sifat-sifatnya dan bertanya; apa yang menyebabkan apa yang menyebabkan satu sumber komunikasi berhasil dalam mempengaruhi orang lain, sementara sumber komunikasi yang lain tidak?

Psikolog juga tertarik pada komunikasi antar individu; bagaimana pesan dari individu menjadi stimulus yang menimbulkan respon pada individu yang lain. bersambung yaa…..


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.