Akselerasi Amal shalih Tafsir Qs Al Ashr (103) ayat 1-3

Pengantar

Al Qu’an merupakan kalamullah. Kesucian dan keagungan al Qur’an didasarkan pada kenyataan ia merupakan perkataan Allaah ‘azza wa jalla yang menkjubkan (al kalam al mu’jiz) dari Allaa yang diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw dalam bahasa ‘arab.  kenyataan ini sangat disadari oleh generasi awal umat islam, sehingga mendorong mereka untuk berkorban sesering mungkin membaca, menghafal, menelaah, memahaminya, dan mengamalkan al Qur’an.

Allaah ‘azza wa jalla telah memberikan petunjuk bagaimana agar umat manusia memahami al Qur’an, di dalam al Qur’an Allaah sering menggunakan kata tadabbur(mencermati berbagai hasil atau mengamati dai awal sampai akhir). Istilah ini dimaknai sebagai salah satu adab kita dalam memahami al Qur’an.

                Tingkatan tadabbur : berpikir (memperhatkan dan mengambil pelajaran), terpengaruh oleh ayat-ayat al Qur’an, dan khusyu’ hati istijabah (mengamalkan) ayat tersebut dalam kehidupan sehari-hari. 

 وَالْعَصْرِ  wal ashri) dalam terjemahan depag diartikan “demi masa”, al-ashr artinya masa

Menurut para mufasirin dan ahli lughah, al-ashr mengandung makna:
1. Ad dhar, Az-zaman (zaman/masa)[1]
2. Al-umru (umur/usia)
3. Al-waqtu (waktu; jam, menit, detik dst)                                                                                                                                                       4. Al Ashr (waktu tergelincirnya matahari hingga sebelum terbenam)[2]

Depag hanya mengambil arti az-zaman saja dalam memaknai kata al-ashr, sedang arti al-umru dan al-waqtu, al ashr seolah diabaikan. Dengan mengabaikan kedua arti tadi akan mengurangi makna sebenar yang diinginkan Al-Qur’an.

Allah bersumpah dengan al-ashr pada awal surat pendek ini, bersumpah dengan zaman/masa, bersumpah dengan umur dan bersumpah dengan waktu(ashar.

“Demi masa, Demi waktu, Demi usia, Demi waktu ashar”

Dengan hanya terdiri tiga ayat namun dalam surat ini tersimpan manhaj  (tatanan) yang lengkap tentang kehidupan umat manusia sebagaimana dikehendaki islam. Didalamnya tampak jelas rambu-rambu dalam keimanan dengan jelas dan detail. Dengan surat yang sangat pendek ini mampu menjelaskan factor-faktor yang menjadi sebab kebahagian dan kesengsaraan manusia

 

خُسْرٍ لَفِي الْإِنْسَانَ إِنَّ

Ayat ini memiliki dua tau’kid (penguat) yaitu; inna (yang artinya sesungguhnya) dan la taukid (dalam la-fi yang artinya benar-benar atau sungguh).

 الْإِنْسَانَ artinya manusia (itu), di sini ada isim al ma’rifah (cirinya ada al/ الْإِ) yang memiliki fungsi sebagai jinsiyyah (menyeluruhkan, mengglobalkan). Jadi الْإِنْسَانَ artinya: seluruh/semua manusia.[3]

خُسْرٍ

Secara bahasa khusr[in] atau khusran berarti berkurang atau hilangnya modal (ra’s al mal) meskipun istilah ini sering dipakai dalam perniagaan makna kerugian dalam al Qur’an tidak berdimensi duniawi dan berkalkulasi materi. Kerugian (khusr) yang dimaksud berdimensi ukhrawi.

Khusr[in] merupakan isim nakirah (kata benda yang sifatnya umum), bentuk ini menunjukan ancaman menakutkan (li tahwil), seolah-olah manusia dalam kerugian yang amat besar. Menurut imam ash shabuni berari li ta’zhim sehingga dapat diartikan sebagai sebuah kerugian besar atau kehancuran yang parah.

لَفِي خُسْرٍ الْإِنْسَانَ إِنَّ

Sebelum kata خُسْرٍ disertai dengan 2 taukid (penguat)

sesunguhnya seluruh manusia (tanpa terkecuali) benar-benar dalam kerugian”

Siapakah orang yang merugi itu???

1.       orang yang kufur sebagai orang yang merugi,  lihat Qs al Baqarah:121, Az Zumar: 63

2.       Menyembah Allaah dengan tidak senuh keyakinan, lihat  Qs Al Hajj : 11,

3.       Percaya yang bathil dan ingkar kepada Allaah, lihat Qs al ankabut : 52

4.       Menjual petunjuk dengan kesesatan, lihat Qs al Baqarah : 16

5.       dst

الَّذِينَ إِلَّا

ayat selanjutnya menyebutkan pengecualian orang-orang yang tidak akan rugi (mengalami nasib buruk di akhirat). Illa al ladzina Aamanuu wa Aamilu al shalihat (kecuali orang-orang yang beriman). Secara bahasa, kata al Iman bermakna tashdiq(pembenaran)[4]. Makna iman dalam ayat tesebut adalah makna syar’I yakni at tashdiq al jai al muthabiq li al waqi ‘an dalil (pembenaran yang pasti; bersesuaian dengan fakta; bersumber dari dalil)

Dalam ayat ini Aamanuu mereka beriman termasuk  fi’il madhi’Muta’addiy/kata kerja lampau yang membutuhkan objek. Itu berarti, yang mereka imani adalah semua perkara yang wajib diimani. Dalam kalimat ini yang dimaksud adalah orang-orang yang beriman kepada Allaah, Malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, hari kiamat dan Qadha Qadar. Penyerahan secara totalitas dalam beriman menjadi sebuah keharusan. Pengingkaran terhadap sebagiannya mengakibatnya pelakunya terkategori kafir. Lihat QS An Nisaa 150-151

siapapun bagi dia yang menolak salah satu dari perintah Allaah dan RasulNya maka ia telah keluar dari islam. Sama saja apakah penolakan itu karena ragu tidak menerima atau menolak untuk tunduk. Sebab Allaah telah menetapkan bahwa siapa saja yang tidak m enerima keputusan Allaah dan RasulNya tidak termasuk ahlu iman[1]

Selanjutnya wa ‘amiluu al shalihaat  mereka melakukan amal shalih termasuk fi’il madhi sebelumnya terdapat wa athaf (kata sambung) menunjukan ada kebersambungan, ayat ini menjelaskan bahwa keimanan harus dibuktikan dengan ketaatan terhadap hukum-hukum Allaah, baik dalam perbuatan maupun ucapannya. Ketaatan inilah yang dimaksud dengan amal shalih. Sebab mengerjakan amal shalih adalah melaksanakan kewajiban, meninggalkan kemaksiatan, dan mengerjakan kebaikan.

Selanjutnya dinyatakan: wa tawaa shawb al haqq wa tawaa shawb ash sabr (saling menasehati supaya menaati kebenaran dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran).

Dua aktivitas ini : menasehati dalam kebenaran dan bersabar atasnya dapat dikategorikan salah satu amal shalih karena diperintahkan oleh hukum syara’.  Disamping itu dalam beberapa ayat lainnya dinyatakan bahwa orang yang masuk surga dan mendapat RidhaNya berarti tidak termasuk merugi adalah yang memenuhi dua syarat, yakni beriman dan beramal shalih lihat QS Al BAqarah :  25, Al Bayyinah : 7.  Allaah sangat menegaskan dalam ayat ini agar kita tidak termasuk orang-orang yang خُسْرٍ Adalah dengan melakukan dua aktivitas ini yakni : menasehati dalam kebenaran (da’wah) dan sabar dalam berda’wah.

Penegasan tersebut Allaah tunjukan dengan adanya athf al khashsh ‘alaa al ‘amm (menambahkan yang khusus pada yang umum). Menurut ash shabuni, jika iman dan amal shalih menyempurnakan diri sendiri sementara wasiat dalam kebenaran dan kesabaran dapat menyempurnakan orang lain.[2]

Al haqq sendiri makanya adalah Al Qur’an secara lebih luas lagi al haqq diartikan sebagai Din al Islam, sebab islam satu-satunya din yang benar dan wajib diikuti setelah diutusnya Rasulullah Muhammad saw.

Ash sabr dalam ayat ini bermakna menahan dalam kesempitan[3] menurut al Alusi sabar bukan sekedar menahan jiwa dan kesempitan namun juga menerima apapun dari Allaah ‘azza wa jalaa dengan senang hati dan ridha, lahir dan bathin. Para mufasir menyatakan bahwa ada tiga macam kesabaran yang harus dimiliki oleh setiap mukmin:

1.       sabar dalam menjalankan ketaatan

2.       sabar dalam menjauhi kemaksiatan

3.       sabar dalam menerima berbagai musibah

 

Penutup

Sesungguhnya kehidupan yang abadi kelak hanya ada di hari penghisaban kelak. kita hidup di dunia hanya sebentar dan singgah saja. menyia-nyiakan waktu juga dipandang sangat merugikan baik di dunia maupun di akhirat. Al Qur’an mengatakan bahwa kehidupan di dunia sehari atau setengah hari (Qs Al Mu’minun : 113) atau bahkan sekejap saja (Qs yunus : 45) Allaah juga menyatakan kehidupan di dunia hanya sebentar saja (Qs Al Mu’minun : 114). Wallahu a’alam [] shinta Mardhiah Alhimjarry

 


[1] Menurut Ibnu Abbas, Ibnu Zubair dan jumhur ayat ini tergolong makkiyah

[2] Al Qurtubhi, al jami’ li ahkam l Qur’an, beirut dar al kutub al ilamiyah, 1993, 122

[3] Imam asy syakani, terjemahan tafsir jalalain, 1990, 2780

[4] Imam asy syaukani, op. cit., 2780.

[5] Imam taqiyyudin an nabhani, al ma’lumat asy syabab.

[6] Az jashash, ahkam al qur’an, vol.3 (Beirut: dar al fikr, 1993), 302

[7] Imam Ali al shabuni, shafwah al tafsir, vol, 3. Beirut: Dar al fikr, 1996, 575.

[8] Al ashfahani, op.cit., 280

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s