Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary: sesungguhnya Nabi ??bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya). Hadits ini diriwayatkan dari segolongan para shahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Tamim Ad Daary dan Ibnu Umar radliyallahu ‘anhum (lihat Al Irwa’ No. 26)
Tadi malam saya baca salah satu kitab Imam Ibnu Qayyim Al jauziy rah, salah satu bahasan yang paling saya suka adalah “perbedaan tingkatan manusia dalam menerima nasehat”. Beliau telah menuliskan, “tatkala nasehat-nasehat diperdengarkan kepada seseorang seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan, namun tatkala ia keluar dari majelis ‘ilmu maka hatinya kembali mengeras” . apa dan bagaimana bisa, seseorang ketika hadir dalam majelis ‘ilmu, halqah dst. Namun setelah selesai halqah seakan-akan jiwa yang baru sadar itu dengan melupakan nasehat-nasehat dan afkar-afkar islam dari gurunya? ‘ilmu hanya sekedar menjadi maklumat tsabiqah saja belum menjadi mafaahim.
Setiap muslim, alaminya adalah pejuang islam dan pastinya dia adalah seorang penda’wah, penda’I dan penjaga islam dimanapun dia berada, artinya ia memiliki kewajibnan untuk da’wah dimanapun dan kapanpun. Setiap melihat kemungkaran maka jiwanya tidak akan tenang sampai ia merubah kemungkaran tadi.
Penda’wah yang serius adalah ketika berda’wah maka ia akan selalu memperhatikan persiapan da’wah (‘idadtu ad da’wah), baik itu ‘ilmunya, waktunya, sasaran da’wahnya, dan kondisi objek da’wah.
Analoginya ketika berda’wah, kita akan memberikan air kesuatu wadah, kalau hanya terfokus pada pikiran “saya harus menuangkan air” maka yang ada hanya “focus pada ide bukan bagaimana saya menuangkan air dengan benar”, padahal kita tidak tahu apakah wadah itu: baskom besar atau kecil, atau gelas mungkin, atau ember bahkan. Kalau wadah yang ingin kita tuangkan air adalah baskom besar, namun ternyata adalah gelas bisa jadi saat menuangkan banyak air yang luber.
ketika berda’wah kita harus memperhatikan kondisi objek da’wah, apakah berjiwa abu lahab
atau berjiwa ali bin abi thalib. Kondisi psikologis objek da’wah mau ga mau harus kita pikirkan dan berpikir keras mencari cara bagimana pendekatan yang pas. kita jangan bangga dengan ide tapi yang harus kita pikirkan adalah bagaimana orang lain bisa faham dengan ide islam, mau menerima afkar-afkar islam dan siap berjuang dijalan islam baik waktu, pikiran, tenaga, dan harta. kita Kalau saya pribadi menilai seseorang bisa mau berubah hanya karena tiga hal : pemikiran , kejujuran dan keikhlasan.
Ibnu Al jauziy rah mengatakan kalau “nasehat itu laksana seperti cemeti ketika seseorang habis dipukuli cemeti itu jika sedang dalam kondisi jiwa dan pikiran yang prima dan terlepas dari ikatan duniawi ia diam dan menghadirkan hatinya. Akan tetapi tatkala kembali disibukan dengan urusan dunia penyakit lamanya kambuh kembali bagaimana mungkin ia bisa kembali seperti saat mendengarkan nasehat-nasehat itu?”.
Teringat nasehat dari guru saya dulu, kalau da’wah itu adalah mendidik jiwa manusia baik pemikiran maupun sikapnya. Ketika kita ingin objek da’wah memiliki jiwa yang baik maka kita dulu yang harus memiliki jiwa baik tersebut. Ketika berda’wah kita harus bisa mengenali jiwa objek da’wah dan hanya muslim yang memiliki jiwa bersihlah yang bisa mengenali jiwa orang lain. Kemudian beliau sedikit menceritakan perjalanan dakwah Imam Taqiyyudin an Nabhani rah, kebiasaan beliau sebelum berda’wah (mengontak, mengisi dst) adalah selalu melaksanakan shalat sunnah mutlak dan memohon objek da’wah agar hatinya mudah menerima kebenaran, hal ini bisa kita teladani.
Nasehat adalah kebaikan, ketika saudara kita memberikan nasehat maka saudara kita menginginkan yang terbaik bagi kita, maka alangkah sangat aneh jika kita dinasehati tapi malah sakit hati? Atau bahkan menolak?
Akan tetapi jika kita di posisi memberi nasehat maka kenalilah bagaimana saudara kita; asal muasalnya, keluarganya, karakternya, sifatnya, lingkungannya, rumahnya dst. Ini membantu kita dalam melakukan pendekatan yang pas.
Ketika kita di posisi yang menerima nasehat baik itu dalam majelis ‘ilmu atau halqah maka pekalah terhadap pendengaran kita, memohonlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar hati kita mudah menerima kebenaran dan berusaha untuk melaksanakan nasehat dari guru kita selama apa yang diperintahkan adalah kebaikan dan sesuai dengan hukum syara’.
Kita harus mendidik jiwa kita agar mudah menerima nasehat dan merindukan nasehat dari orang-orang yang shalih sebagaimana kebiasaan sahabat Rasulullah SAW terdahulu yang selalu meminta dan merindukan nasehat. Dan do’akanlah orang-orang yang ikhlas dan sabar yang telah memberikan nasehat ke kita, dan jadilah orang yang gemar memberikan nasehat ke saudara-saudara kita.
jujurlah menerima nasehat, hargailah orang yang memberi nasehat, do’akan orang yang memberikan nasehat, Gemarlah memberikan nasehat
Da’wah bernilai Ruhiyah dan sebagai sarana Taqarub Ilallah. sehingga, ketika akan berdakwah ; tidak ada beban, tidak berasumsi. ketika akan mengisi kajian juga tidak gugup, gemetaran, tidak percaya diri dst. ketika menyampaikan kemudian mendapatkan respon negatif tidak sakit hati, kesel dst.
karena Qashdu ‘amal/maksud Amal dakwah adalah memenuhi Gharizah Tadayun, adapun kalau gugup dst : bisa jadi dari Ghayah/tujuan Dakwah : mempersiapkan konsep, strategi, persiapannya kurang dan melaksanakan dakwah karena gharizah baqa’/eksistensi diri bukan semata-mata hanya karena ingin bertambah dekat dengan Allah ‘azza wa jalla. Allahu a’lam [firda]


