Arsip Bulanan: Mei 2011

perbedaan زوجة (istri) dan امرأة (istri) dalam Al Qur’an

Salah satu kelebihan bahasa ‘arab adalah pemilihan kata yang sangat selektif untuk menggambarkan kondisi, waktu, bahkan karakter manusia.  satu kata bisa memuat banyak makna dan itulah suatu kewajaran di tengah para Imam Mazhab besar kadang berbeda-beda dalam menggali hukum karena perbedaan pemahaman dalam memahami bahasa ‘arab.

ada yang menarik, dalam Al Qur’an pemilihan untuk lafadz istri pun sangat selektif.

kita pasti mengenal seorang perempuan bernama Aisiyah binti Muzahim?  beliau adalah istri dari Seorang suami yang angkuh atas kekuasaan yang ada di tangannya, yang dusta lagi kufur kepada Rabbnya yakni Fir’aun.

kitapun pasti sangat mengenal istri-istri Rasulullah saw yang kualitas keimanannya tidak perlu diragukan lagi, kepribadiannya yang bersahaja dan setia menemani perjuangan da’wah Rasulullah saw  salah satunya adalah Ummul Mukminin khadijah r.a.

perbedaan Aisiyah dan khadijah r.a. hanya terletak pada sosok suaminya. yang satu (fir’aun) dengan kepercayaan dirinya yang rendah mengaku kalau dia tuhan. yang satu lagi Muhammad sebagai seorang khalil (kekasih) dari Allah ‘azza wa jalla. namun kedua-duanya merupkan wanita utama baik di dunia dan akhirat.

“Sebaik-baik wanita ialah Maryam binti Imran dan sebaik-baik wanita ialah Khadijah binti Khuwailid.” (HR. Bukhari Muslim)

“Lelaki yang sempurna banyak, tetapi tidak demikian halnya bagi wanita kecuali Asiah istri Fir’aun dan Maryam binti Imran. Dan sesungguhnya keutamaan Aisyah atas wanita lainnya seperti keutamaan tsarid (lauk yang berminyak) atas makanan lainnya.” (HR. Bukhari)

dalam Al Qur’an sendiri untuk Aisiyah digunakan lafadz امرأة (istri) seperti dalam Surat At Tahrim ayat 11

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

coba perhatikan Allah menggunakan lafadz امْرَأَةَ berbeda dengan penyebutan bagi istri-istri Rasulullah saw dalam surat Al Ahzab ayat 6

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الأرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلا

أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

Allah menggunakan زوجة untuk istri-istri Nabi Muhammad saw.

Dua lafadz tersebut maknanya dalam bahasa ‘arab sangat berbeda, kata imra’at (امرأة), dijelskan karena ada ketidaksesuaian dan ketidakserasian di antara mereka. oleh karena itu Al-Qur’an mengggunakan kata (فرعون امرأت). Itu antara lain karena di antara Firaun dan istrinya itu tidak terdapat kesesuaian yang sempurna. Firaun tidak beriman kepada Allah, bahkan mengaku dirinya sebagai Tuhan, sedang istrinya memilih untuk beriman kepada Allah dan kepada ajaran yang dibawa oleh Musa a.s.

Adapun zauj, (زوج) lafadz ini dalam al Qur’an hanya ditampilkan dalam kontek kehidupan suami istri yang penuh kasih sayang dan memiliki keturunan, dalam kamus lisan al ‘arab,  imam Ibnu Mandzhur menyebutkan: az-zawj khilâf al-fard. Kata zawj atau azwâj yang digunakan di dalam Al-Qur’an lebih menunjukkan kepada pasangan yang mempunyai keterikatan begitu kuat dan sempurna. Keduanya dapat dikatakan sebaya, serasi, saling berkesesuaian, menganut Dien atau aqidah yang sama, mempunyai kejiwaan yang kurang lebih sama, dan seterusnya.

sangat luar biasa :) , semoga kita semakin mencintai bahasa ‘arab :) dan selalu belajar. Allahu a’lam


Keluasan bahasa ‘arab menjelaskan satu kata “CINTA” :)

Salah satu kelebihan bahasa ‘arab adalah kosakatanya yang sangat banyak, satu kata bisa memiliki makna yang lebih (hampir 50), disini saya akan berbagi dari satu kata CINTA. Tingkatannya seperti apa saja. Kalau membandingkan dengan bahasa lain kayanya ga ada yang bisa menyaingi kesempurnaan dari bahasa ‘arab.

Ibnu Qayyim Al Jauziy rah dalam kitabnya Dzamm Al Hawa menjelaskan peringkat dan makna cinta serta kosakata yang menggambarkannya.

 Pandangan mata atau berita yang didengar bisa melahirkan rasa senang disebut ‘Aliqa

Apabila melebihinya sehingga terbetik untuk mendekat maka dinamai Mail

Dan bila keinginan itu mencapai tingkat kehendak untuk menguasainya maka dinamai Mawaddah

bila seseorang bersedia berkorban atau membahayakan dirinya demi kekaksihnya dinamakan Al ‘Isyq

Sedangkan jika cinta telah memenuhi hati seseorang sehingga tidak ada lagi tempat bagi yang lain maka dinamakan at tatayum

Jika ia tidak lagi dapat menguasai dirinya atau tidak mampu lagi berpikir membedakan sesuatu akibat cinta maka keadaan ini dinamai Walih

Selanjutnya ada tingkat Mahabbah , menurut  Imam Al-Hujwiri dalam kitabnya Kasyful Mahjub menjelaskan makna al-hubb (mahabbah).

Mahabbah berasal dari kata “habbah” yang berarti benih-benih/biji yang jatuh ke bumi di padang pasir. Mahabbah dikatakan berasal dari kata itu karena dia merupakan sumber kehidupan. Sebagaimana benih itu tersebar di gurun pasir, tersembunyi di dalam tanah, dihujani oleh terpaan angin, hujan dan sengatan matahari, disapu oleh cuaca panas dan dingin, benih-benih itu tidak rusak oleh perubahan musim, namun justru tumbuh berakar, berbunga dan berbuah. Demikian halnya cinta sejati, tak lapuk dengan sengatan mentari dan guyuran hujan, tak lekang oleh perubahan musim dan tak hancur berantakan oleh terpaan angin.

Imam al Qusyairi, pengarang Risâlah al Qusyairiyyah mendefinisikan cinta (mahabbah) Allah kepada hamba sebagai kehendak untuk memberikan nikmat khusus kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Apabila kehendak tersebut tidak diperuntukkan khusus melainkan umum untuk semua hambaNya dinamakan Rahmat.

Terakhir ada Khullah (persahabatan) adalah kecintaan yang paling tinggi. Para ‘ulama menyatakan bahwa derajat khullah lebih tinggi dari tingkatan Cinta (mahabbah). Oleh karena itu seorang yang disebut sebagai khalil, lebih tinggi kedudukannya daripada habib.

Di antara dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah bahwa Allah’azza wa jalla hanya mengambil dua orang manusia sebagai khalil, yaitu Nabi Ibrahim AS dan Nabi Muhammad SAW, tentu kekasih yang dimaksudkan dalam hal tersebut bukan kekasih layaknya suami istri namun lebih mengarah kepada Hamba yang begitu dicintai berdasarkan integritas ibadahnya dan kredibilitas akhlaknya yang tak diragukan lagi. Sedangkan masalah  Cinta (mahabbah) Allah ‘azza wa jalla sering menyebutkan dalam al-Qur’an, Allah mencintai orang-orang yang beriman, sabar, berjihad di jalan-Nya dan lain-lain.

Nabi Muhammad SAW menghendaki Abu Bakar sebagai khalil beliau,sesuai dengan Hadist berikut :

إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِيْ صُحْبَتِهِ وَ مَالِهِ: أَبُوْ بَكْرٍ، وَ لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيْلاً غَيْرَ رَبِّي لاَتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ، وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الإِسْلاَمِ وَ مَوَدُّتُهُ، لاَ يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلاَّ سُدَّ إِلاَّ بَابَ أَبِي بَكْرٍ. (رواه البخاري – الفتح ٧/۳٥٩)

“ Sesungguhnya manusia yang paling banyak memberikan jasa kepadaku dalam persahabatan dan hartanya adalah Abu Bakar. Seandainya aku (boleh) mengambil khalil (kekasih) selain Rabbku niscaya aku akan menjadikan Abu Bakar (sebagai khalil), tetapi persaudaraan Islam dan kasih sayangnya. Tidak akan tersisa satu pintu pun di masjid kecuali tertutup, melainkan pintu Abu Bakar.” (HR. Bukhari, Fathul Bari 7/359 hadits 3604).

 

Sebenarnya masih banyak kosakata (CINTA) dalam bahasa ‘arab kurang lebih saya dapat sekitar 50 dari kamus bahasa ‘arab

1.Al-Mahabbah (Kasih sayang)

2. Al-Alaqah (Cinta, Hubungan, Segumpal darah)

3. Al-Hawa (Hasrat, Nafsu, Keinginan)

4. Ash-Shabwah (Kerinduan)

5. Ash-Shababah (Kerinduan yang halus)

6. Ash-Syaghaf (Cinta yang mendalam)

7. Al-Miqatu (Cinta)

8.  Al-Wajdu (Cinta yang disertai rasa sedih)

9.  Al-Kalaf (Cinta yang mendalam)

10. At-Tatayyum (Penghambaan)

11. Al-‘Isyqu (Cinta yang meluap-luap)

12. Al-Jawa (Cinta yang membara)

13. Ad-Danafu (Sakit karena cinta)

14. Asy-Syajwu (Cinta yang berakhir dengan kegelisahan atau kesedihan)

15. Asy-Syauqu (Rindu)

16. Al-Khilabah (Cinta yang mengecoh)

17. Al-Balabil (Yang gelisah)

18. At-Tabarih (Cinta yang memuncak)

19. As-Sadam (Cinta yang berakhir dengan sesal dan rasa sedih)

20. Al-Ghamarat (Bodoh, lalai dan mabuk)

21. Al-Wahl (Takut, gemetar)

22. Asy-Syajanu (Membutuhkan)

23. Al-La’iju (Hangus, terbakar)

24. Al-Ikti’ab (Merana karena sedih)

25. Al-Washabu (Derita Cinta)

26. Al-Hazanu (Kesedihan)

27. Al-Kamadu (Kesedihan yang terpendam dalam hati)

28. Al-Ladz’u (Terbakar api)

29. Al-Huraqu (Gejala cinta)

30. As-Suhdu (Sulit tidur)

31. Al-Araqu (Tidak dapat tidur)

32. Al-Lahfu (Sedih)

33. Al-Hanin (Kerinduan, Belas kasih)

34. Al-Istikanah (Tunduk, Menyerah)

35. At-Tabbalah (Derita cinta)

36. Al-Lau’ah (Terbakar kerinduan)

37. Al-Futun (Cobaan, Ujian)

38. Al-Junun (Gila, Tidak waras)

39. Al-Lamamu (Setengah gila)

40. Al-Khablu (Binasa)

41. Ar-Rasis (Teguh, Tegar)

42. Ad-Da’ul Mukhamir (Penyakit yang merasuk)

43. Al-Wuddu (Kasih yang tulus)

44. Al-Khullah (Satu cinta)

45. Al-Khilmu (Sahabat)

46. Al-Gharam (Cinta yang dibutuhkan)

47. Al-Huyam (Sangat dahaga)

48. At-Tadliyah (Gila, Linglung)

49. Al-Walahu (Tidak waras dan bingung)

50. At-Ta’abbud (Penghambaan)


Subhanallah luasnya bahasa ‘arab, kosakata diatas sudah ada beberapa yang dijelaskan maknanya. Sisanya silahkan bagi yang mau berbagi. Allahu a’lam [firda]


Gemarlah memberikan Nasehat

Diriwayatkan dari Abu Ruqayah Tamim bin Aus Ad Daary: sesungguhnya Nabi ??bersabda, “Agama itu nasehat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin dan umumnya mereka” (HR. Bukhari, Muslim dan yang lainnya).  Hadits ini diriwayatkan dari segolongan para shahabat, di antaranya Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Tamim Ad Daary dan Ibnu Umar radliyallahu ‘anhum (lihat Al Irwa’ No. 26)

Tadi malam saya baca salah satu kitab Imam Ibnu Qayyim Al jauziy rah, salah satu bahasan yang paling saya suka adalah “perbedaan tingkatan manusia dalam menerima nasehat”. Beliau telah menuliskan, “tatkala nasehat-nasehat diperdengarkan kepada seseorang seringkali muncul dalam dirinya suatu kesadaran spontan, namun tatkala ia keluar dari majelis ‘ilmu maka hatinya kembali mengeras” .  apa dan bagaimana bisa, seseorang ketika hadir dalam majelis ‘ilmu, halqah dst. Namun setelah selesai halqah seakan-akan jiwa yang baru sadar itu dengan melupakan nasehat-nasehat dan afkar-afkar islam dari gurunya? ‘ilmu hanya sekedar menjadi maklumat tsabiqah saja belum menjadi mafaahim.

Setiap muslim, alaminya  adalah pejuang islam dan pastinya dia adalah seorang penda’wah, penda’I dan penjaga islam dimanapun dia berada, artinya ia memiliki kewajibnan untuk da’wah dimanapun dan kapanpun. Setiap melihat kemungkaran maka jiwanya tidak akan tenang sampai ia merubah kemungkaran tadi.

Penda’wah yang serius adalah ketika berda’wah maka ia akan selalu memperhatikan persiapan da’wah (‘idadtu ad da’wah), baik itu ‘ilmunya, waktunya, sasaran da’wahnya, dan kondisi objek da’wah.

Analoginya ketika  berda’wah,  kita akan memberikan air kesuatu wadah, kalau hanya terfokus pada pikiran  “saya harus menuangkan air” maka yang ada hanya “focus pada ide bukan bagaimana saya menuangkan air dengan benar”, padahal kita tidak tahu apakah wadah itu: baskom besar atau kecil, atau gelas mungkin, atau ember  bahkan. Kalau wadah yang ingin kita tuangkan air adalah baskom besar, namun ternyata adalah gelas bisa jadi saat menuangkan banyak air yang luber.

ketika berda’wah kita harus memperhatikan kondisi objek da’wah, apakah berjiwa abu lahab :D atau berjiwa ali bin abi thalib. Kondisi psikologis objek da’wah mau ga mau harus kita pikirkan dan berpikir keras mencari cara bagimana pendekatan yang pas. kita jangan bangga dengan ide tapi yang harus kita pikirkan adalah bagaimana orang lain bisa faham dengan ide islam, mau menerima afkar-afkar islam dan siap berjuang dijalan islam baik waktu, pikiran, tenaga, dan harta. kita  Kalau saya pribadi menilai seseorang bisa mau berubah hanya karena tiga hal : pemikiran , kejujuran dan keikhlasan.

Ibnu Al jauziy rah mengatakan kalau “nasehat itu laksana seperti cemeti  ketika seseorang habis dipukuli cemeti itu  jika sedang dalam kondisi jiwa dan pikiran yang prima dan terlepas dari ikatan duniawi ia diam dan menghadirkan hatinya. Akan tetapi tatkala kembali disibukan dengan urusan dunia penyakit lamanya kambuh kembali bagaimana mungkin ia bisa kembali seperti saat mendengarkan nasehat-nasehat itu?”.

 

Teringat nasehat dari guru saya dulu, kalau da’wah itu adalah mendidik jiwa manusia baik pemikiran maupun sikapnya. Ketika kita ingin objek da’wah memiliki jiwa yang baik maka kita dulu yang harus memiliki jiwa baik tersebut. Ketika berda’wah kita harus bisa mengenali jiwa objek da’wah dan hanya muslim yang memiliki jiwa bersihlah yang bisa mengenali jiwa orang lain. Kemudian beliau sedikit menceritakan perjalanan dakwah Imam Taqiyyudin an Nabhani rah, kebiasaan beliau sebelum berda’wah (mengontak, mengisi dst)  adalah selalu melaksanakan shalat sunnah mutlak dan memohon objek da’wah agar hatinya mudah menerima kebenaran, hal ini bisa kita teladani.

Nasehat adalah kebaikan, ketika saudara kita memberikan nasehat maka saudara kita menginginkan yang terbaik bagi kita, maka alangkah sangat aneh jika kita dinasehati tapi malah sakit hati? Atau bahkan menolak?

Akan tetapi jika kita di posisi memberi nasehat maka kenalilah bagaimana saudara  kita; asal muasalnya, keluarganya, karakternya, sifatnya, lingkungannya, rumahnya dst. Ini membantu kita dalam melakukan pendekatan yang pas.

Ketika kita di posisi yang menerima nasehat baik itu dalam majelis ‘ilmu atau halqah maka pekalah terhadap pendengaran kita, memohonlah kepada Allah ‘azza wa jalla agar hati kita mudah menerima kebenaran dan berusaha untuk melaksanakan nasehat dari guru kita selama apa yang diperintahkan adalah kebaikan dan sesuai dengan hukum syara’.

Kita harus mendidik jiwa kita agar mudah menerima nasehat dan merindukan nasehat dari orang-orang yang shalih sebagaimana kebiasaan sahabat Rasulullah SAW terdahulu yang selalu meminta dan merindukan nasehat. Dan do’akanlah orang-orang yang ikhlas dan sabar yang telah memberikan nasehat ke kita, dan jadilah orang yang gemar memberikan nasehat ke saudara-saudara kita.

jujurlah menerima nasehat, hargailah orang yang memberi nasehat, do’akan orang yang memberikan nasehat, Gemarlah memberikan nasehat

 

Da’wah bernilai Ruhiyah dan sebagai sarana Taqarub Ilallah. sehingga, ketika akan berdakwah ; tidak ada beban, tidak berasumsi. ketika akan mengisi kajian juga tidak gugup, gemetaran, tidak percaya diri dst. ketika menyampaikan kemudian mendapatkan respon negatif tidak sakit hati, kesel dst.

karena Qashdu ‘amal/maksud Amal dakwah adalah memenuhi Gharizah Tadayun, adapun kalau gugup dst : bisa jadi dari Ghayah/tujuan Dakwah : mempersiapkan konsep, strategi, persiapannya  kurang dan melaksanakan dakwah karena gharizah baqa’/eksistensi diri bukan semata-mata hanya karena ingin bertambah dekat dengan Allah ‘azza wa jalla. Allahu a’lam [firda]


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.