Membina adalah aktivitas yang sangat mulia, aktivitas para Nabi terdahulu. Teladan bagi para Pembina masa kini tentu adalah Nabi Muhammad Saw. sebagaimana Rasulullah telah sukses mencetak generasi islam yang brilian-berani-cerdas-kuat-, Rasulullah berhasil mendidik para sahabat sehingga memilki kepribadian islam yang mumtaz, sehingga tidak aneh pada masa Rasulullah tidak ada masalah internal yang beliau hadapi. Perlu diingat, para sahabat yang begitu berani berjuang mendakwahkan islam tentu kuncinya ada dalam pembinaan (tastqif)
.
Jika pembinaan ini berhasil maka tidak ada masalah dalam gerak dakwah. Dan Kuncinya hanya ada di seorang Pembina yang dalam islam sebutan Pembina ini adalah Musyrif / Musyrifah. Berbeda dengan sebutan Murabi / murabiah.
Secara bahasa ‘arab, kata “Musyrif” berasal dari akar kata sya-ra-fa sama dengan kata isyraf, maknanya adalah bimbingan, pengarahan, dan rekomendasi.
Musyrif layaknya adalah dia sebagai pembimbing murid: membimbingnya senantiasa agar selalu menjalankan aktivitas sesuai dengan hukum syara’ dan sejuah mana implementasi tsaqafah islam dalam kehidupan sehari-harinya (fardiyah-jama’ah). mengarahkan ; ketika dia memilki masalah maka Musyrif selalu terdepan dalam membantu permasalahan adik-adiknya yang dibina terlebih lagi dalam masalah dakwah dan gerak. Sehingga disini Pembina mesti memiliki pengalaman yang banyak dalam masalah gerak dakwah dan pastinya Pembina sebelum menjadi Pembina dia sudah berhasil mencetak kader. Rekomendasi ; Musyrif adalah amir bagi para muridnya, amir disini dia membimbing, mengarahkan dengan cara “mengasuh” bukan “komando” mengasuh layaknya seorang ibu kepada anak-anaknya, rekomendasi disini misalnya:
Murid “punya masalah gerak” (susah buat alur materi/suka grogi dihadapan objek dakwah/belum berani dst) —- > tugas Musyrif adalah mengetahui setiap akar masalah dia kenapa?—– > setelah mengetahui, musyrif kemudian bertanya ke murid (missal grogi : kira-kira kenapa grogi? ) murid akan menjawab “kurangnya persiapan” — > musyrif akan bilang, kalau begitu? — > murid dengan sadar diri “saya harus lebih prepare”. Rekomendasi mengarahkan murid belajar untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri dengan pendekatan mengasuh. Ibarat pancing ikan dengan ikan, maka musyrif memberi pancing ikan bukan ikan.
Beranjak ke Suasana majelis ‘ilmu (halqah, diskusi, majelis taklim dll) akan terasa sangat membekas dalam jiwa jika pengisi majelis dalam suasana keimanan.
Pembina bersedia mengisi dengan niat hanya melaksanakan salah satu kewajiban kepada Allah ‘azza wa jalla, tidak lebih dari itu. jika diawali dengan niat ikhlas dan tulus maka ia akan bersungguh-sungguh dalam menadalami ‘ilmu yang akan disampaikan pada peserta majelis, ia akan mendalami setiap nash dan dalil terkait dengan tema yang akan disampaikan, beusaha mengambil fakta dan mengaitkannya dengan tema kajian.
Untuk Pembina ada beberapa hal yang harus diperhatikan sebelum mengisi majelis ‘ilmu atau halqah yakni target halaqah , ada empat target yang harus senantiasa diingat dan men-isyraf diri agar target halqah dapat tercapai dalam setiap perhalqahan;
1. Taklim (transfer ‘ilmu)
2. Tasqif (pembinaan)
3. Mutajasad Aqliyah
4. Mutajasad Nafsiyah
Pertama, adalah taklim atau transfer ‘ilmu. Kita menyampaikan materi kajian sesuai dengan pembahasan yang akan dibahas dan dikaitkan dengan pembahasan sebelumnya, bagaimana kaitannya dengan fakta sekarang. Disini Pembina wajib untuk menguasai materi kajian yang akan disampaikan pada peserta halqah.
Kedua, adalah Tasqif atau pembinaan. Namanya halqah berbeda dengan liqa’ (pertemuan). Pembina tidak hanya sekedar menyampaikan ‘ilmu saja tapi dalam perhalqahan yang dibanguan dengan suasana keimanan akan mendorong Pembina untuk membina para peserta dalam perhalqahan, membina disini adalah mengurusi “sesuatu” hal yang tidak beres mengenai tsaqafah peserta halqah (cek pemahaman) apakah dengan bertanya. Membina keislaman mereka pada saat perhalqahan.
Ketiga, adalah Mutajasad Aqliyah. Halqah hanya akan sekedar taklim apabila materi halqah tidak dikaitkan dengan fakta yang sedang terjadi, sehingga disini Pembina mesti dapat mendalami fakta dan kaitkan dengan materi halqah. Dimana materi halqah adalah tidak hanya sekedar imu akan tetapi bagaimana Pembina dapat menjelaskan materi haqlah adalah untuk memecahkan masalah umat.
Fakta —– > mendalami secara structural —- > analisis —– > tafkir syara’ —– > tafkir siyasi
Mendalami fakta (tafkir ‘an waqi’) bagaimana peserta halqah dapat memahami realitas yang terjadi kemudian peserta halqah dibina keislamannya(tsaqafah) sehingga dapat menilai apakah peristiwa atau kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah dibawah system sekulerisme sesuai dengan hukum syara’ atau tidak (analis waqi’). terakhir adalah tafkir siyasi / berpikir politis, upaya pembinan untuk membina peserta halqah mengenai peran mereka dalam jama’ah baik implementasinya secara individu ataupun berjama’ah.
Perlu diingat oleh Pembina, peserta halqah perlu diingatkan dan dibimbing, dipantau dalam pelaksanaan hukum syara secara fardiyah ataupun jama’ah.
Bagaimana agar bisa termutajasad? Secara alur saya pribadi selalu berpikir seperti diatas, nah untuk sampai memutajasad di perserta halqah adalah — > nash syara’ + bahasa ‘arab + peran peserta halqah. Sebenarnya jika kita berpegang pada berpikir sistematis tadi, mutajasad aqliyah ithu akan sendirinya sudah termunculkan.
Pembina harus bisa berpikir kreatif, seribu cara dicoba untuk memahamkan peserta halqah mengenai materi yang sedang dibahas.
Yang terakhir adalah mutajasad nafsiyah, satu hal yang perlu diingat adalah tidak ada pemisahan antara aqliyah dan nafsiyah. Keduanya saling terkait. Jika target aqliyah dalam perhalqahan tercapai maka dengan pastinya akan membekas dalam jiwa peserta halqah dan akan mendorong dia untuk segera mengimplementasikan ‘ilmu di pehalqahan.
Kembali pada fungsi nafsiyah adalah untuk mengendalikan hawa nafsu. Pembina perlu menjelaskan secara detail,
—- > jika ada pejuang syari’ah dan khilafah bermasalah pada gharizah nau’ dan baqa’ nya, pasti ada yang tidak beres dengan taqarub ilalahnya dan ithu adalah kualitas dan kuantitas ibadah mahdah. Perlu di segarkan kembali, seorang hamba yang takut kepada Allah adalah dia yang rajin meningkatkan kualitas ibadah nafilah. Sehingga aqliyah dan nafsiyah akan sejalan.
Dari keempat target yang susah untuk diwujudkan adalah mutajasad aqliyah dan nafsiyah. Pembina adalah manusia yang sedang mendalami proses untuk membina para murid didikannya.
Jika keempat target ini dapat diwujudkan maka setelah halqah, para perserta akan benar-benar merasakan seperti “dibakar” dan sangat “panas”, “dibakar” oleh mabda’ islam dan merasakan “panas” dalam jiwanya hanya karena dia ingin segera menyampaikan apa yang telah didapat pada halqahnya. Halqah yang mumtaz akan memunculkan dia untuk bergerak cerdas dan startegis.
Perlu ditancamkan kuat-kuat dalam benak para Pembina, membina bukan tugas yang sepele atau mudah tapi pekerjaan yang sangat serius dan kelak Allah akan memintai pertanggung jawabannya kepada kita. Jadikan proses kita membina para pejuang sebagai ladang yang penuh pahala dan berkah bukan sebaliknya ladang dosa (salah membina dapat membuat orang tersesat) Wallahu’alam []
Firda



Januari 26th, 2011 at 8:40 am
izin menambahkan ya, Dalam sebuah halaqah, musyrif/ah bertindak sebagai qiyadah (pemimpin), ustadz (guru), walid (orang tua), dan shahabah (sahabat) bagi daris’/ahnya. Peran yang multifungi itu mengharuskan seorang muyrif memiliki berbagai kompetensi, antara lain kompetensi untuk memimpin, mengajar, membimbing, dan bergaul.
Musyrif perlu melakukan hubungan yang intensif dengan daris’nya. Ia perlu mengenal “luar dalam” daris’nya melalui hubungan yang dekat dan akrab. Ia juga memiliki tanggung jawab untuk membantu permasalahan daris’nya sekaligus bertindak sebagai pembina mental, spritual, dan (bahkan) jasmaninya. Peran ini relatif tidak ada pada diri seorang muballigh. Karena itulah, mencetak musyrif sukses lebih sulit daripada mencetak muballigh sukses.
Dalam skala makro, keberadaan musyrif sangat penting bagi keberlangsungan perjuangan Islam. Dari tangan musyrif/ah lahir kader-kader dakwah yang tangguh dan handal memperjuangkan Islam. Jika dari tangan muballigh lahir orang-orang yang “melek’ terhadap pentingnya Islam dalam kehidupan, maka musyrif melanjutkan kondisi “melek” tersebut menjadi kondisi terlibat dan terikat dalam perjuangan Islam. Urgensi musyrif dalam perjuangan Islam bukan hanya sebatas retorika atau tataran teori belaka, tapi sudah dibuktikan dalam perjalanan sejarah panjang umat Islam. Dimulai oleh Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wasallam sendiri ketika beliau menjadi musyrif bagi para sahabatnya di Darul Arqam. Kemudian dilanjutkan oleh para ulama terdahulu salaf (terdahulu) yang shalih, sampai akhirnya dipraktekkan oleh berbagai harakah Islam di seluruh belahan dunia hingga saat ini. Tongkat esatafet perjuangan Islam tersebut dilakukan oleh para musyrif yang sukses membina kader- kader dakwah yang tangguh.
wallahualam…
mari bersila ukhuwah ke blog kami..jazakillah
Februari 11th, 2012 at 4:04 am
bagus banget tulisannya teh,, izin kusimpan di blog ya.. oiy, saya boleh belajar sama teh firda?? ini serius..