Mewaspadai Upaya Deradikalisasi Kampus

Memasuki awal bulan ramadhan negeri ini kembali dihebohkan oleh isu “terorisme”,  dengan tertangkapnya Ustadz Abu Bakar Baasyir dan 3 aktivis ikhwan. Sebelumnya masih segar kejadian aksi “terorisme” rabu 23 juni 2010 , densus 88 berhasil menembak mati tersangka terorisme dan melukai beberapa lainnya di Klaten. Sejak minggu pertama maret hingga pertengahan mei 2010, densus telah menembak dan menangkap sejumlah pelaku terorisme di berbagai tempat. Menurut polisi, dari 56 tersangka yang ditangkap memiliki hubungan dengan jaringan teroris yang teah melakukan aksi sebelumnya. Polisi juga membeberkan rencana mereka yang akan melakukan operasi 17 agustus 2010 bertepatan 7 ramadhan dengan target menggulingkan SBY. Selain upaya penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan ada upaya lain yang terus menerus dilakukan. Selama tiga tahun terakhir ini, pemerintah indonesia sedang melakukan eksperimen dengan program yang disebut “deradikalisasi”.

Istilah deradikalisasi ini memiliki arti yang berbeda-beda. Secara bahasa de mengandung arti tidak, sedangkan radikalisasi sendiri adalah keras atau ekstrim. Singkatnya deradikalisasi adalah tidak mengeraskan atau melembutkan. Pada dasarnya ketika pemerintah serius dalam membuat program deradikalisasi ini, yang memiliki target  yaitu proses menciptakan lingkungan yang mencegah tumbuhnya gerakan-gerakan radikal dengan cara menanggapi “root causes” (akar-akar penyebab) yang mendorong tumbuhnya gerakan-gerakan ini. Atau makna lain adalah upaya untuk meyakinkan para pelaku terorisme untuk meninggalkan aksi kekerasan. Program deradikalisasi ini pun ternyata sudah berguling ditengah-tengah masyarakat luas umumnya, polri memiliki program community policing (pemolisian komunitas-komunitas) dimana para komandan lapangan dan kewilayahan mengimplmentasikan dan memetakan skala prioritas garapan mereka. Selain komunitas narapidana, pasantren, buruh, dan nelayan ternyata terdapat komunitas lain yang diyakini telah dirambah oleh gembong terorisme. Yaitu kalangan terpelajar dari usia sekolah  menengah atas sampai kalangan mahasiswa. Kegiatan terorisme mulai membidik mahasiswa yang lekat dengan sebutan intelektual muda, terpelajar, dan berpendidikan tinggi. “mahasiswa sebagai kalangan terpelajar ini banyak dibidik untuk terlibat dalam kegiatan aksi terorisme.” Kata pengamat sosial, iamam prasodjo, minggu (23/5) karena itulah perlu adanya deradikalisasi dikalangan kaum terpelajar atau kampus.

Deradikalisasi kampus

Kampus adalah tempat strategis untuk melahirkan pemimpin-peminpin baru yang kelak akan menjadi pemimpin di negeri ini, disisi lain kampus akan menghasilkan para pemikir, intelektual dan kaum terpelajar dimana pada umumnya mereka adalah orang-orang yang terbuka dengan segala isu yang sedang berkembang dalam masyarakat baik dalam negeri maupun luar negeri. mereka yang belajar adalah kalangan muda dan produktif. secara konteks sosial dapat mengikuti isu politik internasional, misalnya soal timur tengah  dan arogansi superpower negara barat yang ada didalamnya. Dikhawatirkan aksi teroris akan memepengaruhi pola pikir mereka dengan mudah karena mereka yang open mind.

Paham-paham radikalisasi yang mengarah ke terorisme dikhawatirkan terus bertumbuh di dalam kampus, karena merupakan lahan strategis dan leluasa menyebarkan gagasa radikalisme. Karena itu kampus harus bisa mencegah jaringan radikalisme yang menyusup dan melakukan doktrin kepada para mahasiswa. Para teroris memilih target mahasiswa yang pintar dan memiliki idealisme tinggi serta memiliki pemikiran radikal dan revolusioner.

Pada tangggal 17 mei 2010 densus 88 telah berhasil menangkap dua mahasiswa di Solo, jawa tengah, yang diduga terlibat jaringan pelatihan terorisme Nanggore Aceh Darussalam. Dua mahasiswa kakak beradik ini yaitu, Abdul Rahman dan Abdul Rachim ditangkap di dua tempat yang berbeda yang satu di ditangkap di kampung Sekip RT 03 RW 23 gang buntu dan jalan ahmad yani. Mereka diduga berperan menyebarluaskan video pelatihan teroris di Aceh melalui dunia maya.

Atas kejadian ini, maka perlu bagi pemerintah untuk segera dilakukan upaya atau program untuk mencegah masuknya kalangan terpelajar ke dalam golongan terorisme. Dan hal ini pun direspon oleh para pejabat dalam instansi pendidikan di universitas-universitas. Tanggapan salah satu dari universitas yang mendukung program pemerintah adalah Prof Dr Komaruddin Hidayat MA, Rektor UIN Syarif Hidayatullah, menurutnya hasil penelitian melakukan fakta lapangan bahwa gerakan dan jaringan radikalisme islam telah lama menyusup ke sekolah umum yaitu SMA. Para siswa yang masih sangat awam soal pemahaman agama dan secara psikologis tengah mencari identitas diri ini menjadi lahan incaran pendukung ideologi radikalisasi. Menurutnya lagi, ada beberapa ciri dari gerakan ini yang perlu diperhatikan oleh guru dan orang tua.

  • Para tutor penyebar ideologi kekerasan itu selalu menanamkan kebencian terhadap negara dan pemerintah
  • Siswa yang sudah masuk ke jaringan ini menolak untuk menyanyikan lagu kebangsaan
  • Ikatan emosional pada ustadz, senior dan kelompoknya lebih kuat dari ikatan keluarga dan alamamater.

Menyikapi deradikalisasi kampus

Sebagai mahasiswa-mahasiswi muslim harus tampak waspada terhadap setiap upaya pencitra negatif-an kepada islam. Pasalnya fenomena terorisme ini tidak lebih dari upaya segelintiran orang yang benci terhadap islam dan orang-orang yang memperjuangkan islam. Terlepas dari kasus-kasus diatas apakah benar atau tidak, saya pribadi lebih memiliki wallahu’alam.

Untuk menyikapi deradikalisasi kampus harus dan semetinya yang dilakukan adalah meningkatkan kesadaran politik terhadap setiap upaya yang hendak menjauhkan islam dari kaum muslimin. Mahasiswa sebagai agent of change harus bersikap kritis terhadap pemikiran, opini, atau kebijakan yang berkembang di kampus. Adapun upaya yang bisa kita lakukan sebagai mahasiswa muslim yang kritis dari upaya deradikalisasi kampus ini adalah

Sebagai individu

  • Semakin meningkatkan keimanan kepada Allah ‘azza wa jalla
  • Tetap berada dalam jama’ah atau organisasi islam yang ada di kampus. Bentengi diri agar tidak mudah terkooptasi dengan isu-isu terorisme yang sedang terjadi, kalaupun ada keganjalan maka jangan malu untuk diskusi dan bertanya seputar isu yang terjadi. Terlebih lagi jika menyangkut fitnah terhadap afkar-afkar islam.
  • Senantiasa membekali diri dengan tsaqafah-tsaqafah islam. Manfaat isu yang tengah terjadi menjadi jalan bagi untuk semakin tahu “bagaimana islam / hukum syara’ memandang yang demikian” sehingga dengan sendirinya kita akan semakin kaya akan dalil-dalil syara’ .
  • Semakin meningkatkan gerak dakwah fardiyah/individu.

Organisasi

  • Merubah tantangan menjadi peluang bagi dakwah

Satu hal yang perlu digarisbawahi dari deradikalisasi kampus ini adalah upaya program pemerintah untuk menjauhkan masyarakat kampus dari pemahaman-pemahaan islam yang murni. Bisa dengan program akademik kampus yang ketat sehingga menutup kemungkinan bagi mahasiswa untuk masuk kedalam organisasi islam khususnya. Mereka akan semakin tumpul pemikirannya karena hanya berkutat pada pelajaran akademik saja, sedangkan dalam tataran aplikasi mereka tidak ahli sehingga tidak aneh pendidikan indonesia melahirkan jiwa-jiwa follower bukan sebaliknya menjadi sosok pemimpin, Semakin individulistik, tidak peka, merasa tidak peduli dengan problematika yang tengah terjadi baik di kampus maupun dalam kapasitas negara. Terlebih lagi akan muncul ketakutan untuk masuk dan bergabung kedalam organisasi islam.

Untuk organisasi atau lembaga dakwah kampus  ketika menghadapi isu ini yang harus diperhatikan adalah bagaimana upaya merubah tantangan menjadi peluang bagi dakwah di kampus. Deradikalisasi kampus ini bisa menjadi entry point bagi lembaga dakwah untuk membuat program-program baru demi mencerdaskan dan menyuburkan aktivitas dakwah di kampusnya. Bisa diawali dengan,  menganalisa  kampus terkait isu terorisme dan memberikan tawaran solusi yang cerdas. Langkah ini bisa dilakukan dengan pengumpulan data yang berisikan tanggapan dan respon para akademisi terkait wacana atau isu yang diangkat. Dan memberikan tawaran solusi yang mencerdaskan terkait isu, misal dengan mengadakan kajian-kajian islam yang intensif, forum diskusi intelektual dll. yang pasti ini dibuat sesuai dengan kebutuhan dan target Lembaga Dakwah.

Lembaga Dakwah kampus memiliki peran dan tanggung jawab yang bagaimana mencerdaskan masyarakat kampus dengan islam dan menjelaskan sejeas-jelasanya terkait kasus atau masalah yang sedang terjadi di negeri ini tentu apa yang dilakukan oleh LDK adalah salah satu upaya untuk meraih cita-cita besar dalma dakwah yakni isti’na fil hayati islam atau melanjutkan kembali kehidupan islam.[]

About these ads

One thought on “Mewaspadai Upaya Deradikalisasi Kampus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s