13 Mei 2009

Orkestra Dakwah

Terinspirasi ketika pergi ke braga untuk membeli buku… besar-besaran diskonnya ampe 50%.. saya beli beberapa buku.

sebelum pulang abiz borong buku, ada tampilan dari grup musik “debu”, karena penasaran akhirnya saya melihat sekilas.. penyakit saya kambuh, saya seneng banget dengan syair-syair islam baik lewat lagu maupun ketika saya baca buku, sebagai contoh karangannya syeikh jalaludin rumi “man ‘arafa Rabbahu  faqad ‘arafa nafsahu”, atau karangannya syeikh Ibnu Qayyim al jauziya “taman-taman orang yang sedang jatuh cinta”.. heu

sebelum saya benar-benar merevisi diri, saya seneng pisan ma syair2 islami.. tapi seperti yang tertulis di kitab kesayangan saya  “At Tafqir”tentang teks2 yang berbau sastra hanya memancing gharizah saja bukan membentuk pemahaman ditambah saya juga bukan orang yang suka “romantis-romantisan”.

penyakit lain yg kambuh adalah “alat musik”, saya dulu bisa sedikit memainkan alat musik seperti seruling, piano, drums.. jadi ketika melihat performence nya debu, ya ampun saya tobat maksudnya hati saya rindu untuk bermain alat2 musik seperti itu apalagi biola.

hanya saja, yang paling membuat saya miris hati ketika saya melihat performence debu saya langsung ingat dengan okestra.  saya langusng inget serial jepang “Nodame Cantabile”, seorang pemain piano. tapi saya inget chiaki nya, yang dia sebagai konduktor dalam sebuah orkestra.

orkestra adalah sebuah esembel musik yang memiliki banyak alat musik. terdiri dari beberapa orang yang ahli di alat musik yang ia mainkan dan di pimpin oleh seorang konduktor saja agar permainan musik yang dibangun dari berbagai macam alat musik yang berbeda dapat di dengar nan indah.  satu alat musik saja tidak jalan atau sejalan dengan alat musik lainnya atau belum masuk pada nada irama yang sesuai maka fatal akibatnya.

kemungkinan besar, konduktor yang marah, suara musik tidak enak di dengar paling parah seluruh arasemen akan kesa. maka perlu banyak latihan dan kerja keras untuk menghasilkan sebuah lagu yang kompak, indah dan enak di dengar dari sebuah okestra.  yang paling penting semua yang terlibat dalam permainan okestra harus mengerti betul apa tugasnya.

saya jadi ingat dengan “dakwah” heu, tugas belum selese.

dakwah jama’ah atau dakwahyang tergabung dalam sebuah lembaga dakwah (kampus, red)  saya menanalogikannya seperti sebuah okestra, ada konduktor. katakanlah konduktor tersebut adalah sang pemimpin yang ada dalam dakwah jama’ah tadi.  dan terdiri dari anggota-anggota yang siap akan melaksanakan tugas dari konduktor tadi. setiap gerakan tangan konduktor mengandung arti .

konduktor diam maka anggota orkestra pun akan diam.

pemimpin dalam sebuah dakwah jama’ah bukan hanya bertugas “menyuruh” para anggotanya saja, tapi bagaimana dia mengecek setiap anggotanya apakah mengerti dan siap untuk melaksanakan apa yang di amanahi, adakah kebingungan?? adakah ketidak mauan?? maksudnya apakah nyaman dengan amanah yang telah diberikan?? jangan sampai pemimpin hanya menyuruh tanpa memahami kondisi yang sedang ia suruh..

pemimpin yang memberikan amanah kepada seseorang, misal sebagai kepala bagian pembinaan dan penkaderan, apakah nyaman dan senang dia ada di bagian tersebut?? ketika berbuat salah apakah lantas hanya memarahi tanpa membantu??

pakah pemimpin tahu dan mengerti betul , bagaimana kondisi di setiap bagian bawahnya secara mendetail?? siapa tahu ada anak buahnya yang ia merasa “sendiri” dan kebingungan dengan posisinya??

apakah keputusan yang sang pemimpin putuskan sudah benar2 hasil dari “berpikir benar”, contoh, ketika ada nggota yang berbuat salah lantas tidak langusng ia judge tanpa ada konfirm terlebih dahulu.

dan di bawah pemimpin ada anggota.. pemimpin itu ada karena ada anggota yang siap ia pimpin. begitu juga anggota ada karena ada pemimpin yang ia pandang sebagai “pelindung”, “tempat ia mencurahkan segala ide dan keinginan.  dan siap ia taati selama berpegang pada aturan syara’.

sebagai anggota, ia harus faham dengan apa2 yang “ada di tangannya (proker, red)

sebagai anggota dia pun harus sadar betul, inisiatif untuk mencari apa2 saja yang belum ia pahami dari proker atau tugasnya.  dan berusaha ikhlas dengan apa yang sudah ia dapatkan dari pemimpin tadi.

contoh, apakah salah ketika snag pemimpin memberikan “amanah dadakan??” yang sebelumnya ia bertanya apakah bisa..

para anggota sering menanggapinya dengan “enak aja sii,  kasih amanah dadakan begini.. “

bahkan yang sebelumnya ia bertanya terlebih dahulu, bisa atau tidaknya tapi kadang entah kenapa para anggota melakukan amanah tadi dengan menggerutu, dilakukan dilakukan tapi dengan “keanehan” dan ketidak senangan ketika melakukan amanah yang ia dapat dari pemimpin atau teman dakwah jama’ah yang lain itu pun disampaikan di belakang.

sadarilah, yang namanya dakwah jama’ah memang seperti ini. harus siap diminta, harus siap melakukan sesuatu yang anggota dakwah jama’ah lainnya sedang memerlukan bantuan namanya juga dakwah jama’ah.

tidak sepenuhnya kesalahan anggota dalam melakukan amanah karena pemimpin, bisa jadi karena memang anggota yang belum faham karena ia sendiri tidak mencari tahu!! padahal pemimpin sudah memahamkan ke anggota tadi.

ini bukan masalah yang benar dan salah.

tapi kembali ke filosofi diatas, “orkestra” bukankah dakwah jama’ah itu seperti sebuah orkestra ada pemimpin dan ada banyak anggota. hasil dari okestra ini adalah musik yang indah yang di bangun dari perbedaan-perbedaan alat musik yang banyak sekali (hampir 80 alat musik, red)

bagaimana seorang pemimpin itu seperti konduktor yang paham betul setiap anggota yang akan ia pimpin..

dan para anggota bagaimana ia paham betul apa yang akan ia lakukan, jika ada sesuatau yang tidak mengerti ia akan bertanya kepada pemimpin, karena ketidak aktivan anggota akan berakibat fatal.

sama seperti okestra jika ada anggota yang diam maka hasilnyapun  musik yang tidak sesuai dengan yang sudah di rencanakan terlebih dahulu.

same with dakwah.

29 April 2009

Musafir dan Penghafal Qur’an

Pemisalan orang yang senantiasa menghapalkan Al-Qur’an seperti musafir yang terburu-buru (harus segera tiba ditujuan),yakni seperti dua orang musafir.Satu diantaranya membekali diri dengan kurma, sehingga jika datang rasa lapar diperjalanan, tangannya bisa merogoh kurma tadi untuk makan.Dengan cara seperti ini maka dia akan mampu menyelesaikan safarnya dalam 5 hari misalnya

Adapun pemisalan orang yang tidak menghapalkan al-quran ,adalah seperti orang yang satu nya lagi dari dua musafir tadi.Namun dia mempersiapkan bekalnya dengan membawa tepung atau beras.Tatkala lapar maka dia perlu waktu untuk mempersiapkan makanannya , baik mengadon nya ,mematangkannya atau mengumpulkan kayu bakar ,demikianlah harus selalu tersendat perjalanannya sekitar sejam dua jam tatkala hendak mengisi perut

Demikianlah orang-orang yang rajin menghapal Quran maka dia terkadang bisa membaca Al-Quran sepanjang hari.Allah mudahkan untuk itu, karena dia bisa membaca dalam keadaan dia dalam kendaraan,dia membaca ketika dalam kondisi berjalan ,membaca ketika sholat maupun diluar sholat.

Adapun yang tidak banyak memiliki hapalan, maka tatkala dia akan membaca AL-Quran,dia harus meluangkan waktu untuk berwudhu atau bersuci kemudia memerlukan mushaf.Dia senantiasa harus membacanya dalam keadaan duduk , tanpa bisa membaca sambil berjalan.Ya, duduk terus selama dia meneruskan bacaannya,sehingga lewatlah sebagian waktunya.

Olehkarena itu kami mendorong agar para penuntut ilmu dalam menghapal al-quran dan memacu agar memperbanyak hapalan.Karena yang demikian tersebut diantara sebab sebab banyaknya penghapal al-quran yang memberi manfaat kepada ummat dan dirinya sendiri.

Dinukil secara bebas dari Liqoaat Syaikh abdullah bin Jibrin hafidzahullah (http://www.ibn-jebreen.com/book.php?cat=9&book=169&toc=7930&page=6943&subid=32773)

Sumber : http://salafyitb.wordpress.com/2008/12/01/musafir-dan-penghapal-quran

11 April 2009

Mengakhiri kebuntuan Kapitalisme!

“Problem ekonomi adalah bagaimana memenuhi kebu-tuhan yang tak terbatas de-ngan sarana pemenuhan yang terbatas”. Demikian salah satu penggalan pemikiran ekonomi kapitalisme yang sering dilontarkan seorang dosen kepada para mahasiswanya pada saat pertama mereka menempuh kuliah ekonomi.

Menurut pencetus gagasan ini, Adam Smith yang merupakan Professor Glasgow University, persoalan tersebut cukup diatasi dengan mekanisme pasar. Artinya pemenuhan kebutuhan seseorang ditentukan sejauh mana ia memiliki kemampuan untuk membeli barang dan jasa yang tersedia di pasar. Semakin kaya orang tersebut maka semakin banyak kebu-tuhan barang dan jasa yang dapat ia penuhi.

Sebaliknya seseorang yang kelaparan namun tidak memiliki uang untuk membeli makanan maka ia akan terus kelaparan bahkan hingga mati. Agar kemampuan masya-rakat dalam mengakses barang dan jasa semakin tinggi maka dorongan untuk berproduksi terus didorong setinggi-ting-ginya yang diukur dengan GNP (gross national product). Hara-pannya gap antara kebutuhan yang tak terbatas dan keinginan yang terbatas dapat diper-sempit. Teori ini dikenal dengan Trickle down effect.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan sendirinya akan me-netes ke bawah. Tetesan inilah yang diharapakan akan dinikmati oleh mereka yang berada di bawah. Sayangnya dampak dari teori yang mereduksi peran pemerintah dan menyerahkan sepenuhnya ekonomi pada mekanisme pasar ini sangat mengerikan.

Sebagian kecil kelom-pok masyarakat memang menikmati kekayaan yang berlimpah namun jutaan lainnya hidup dalam kemis-kinan. Amerika yang dianggap se-bagai kampiun kapitalisme pun menghadapi problem yang sama. Saat ini ini diperkirakan jumlah penduduk miskin di negara tersebut sekitar 35 juta orang atau sekitar 13 persen dari populasi penduduknya. Economic Walfare yang pertama kali diterapkan oleh Otto Von Bis-mark, kanselir Jerman pada tahun 1881 untuk mengeliminasi semakin kuatnya pengaruh Partai Sosialime Jerman yang terus mengkritik kelemahan kapitalime tetap me-nyisakan problem serius.

Bahkan Inggris di masa pemerintahan Margaret Tathcher hingga Blair telah mengaborsi konsep tersebut. Kebijakan ini tidak jauh berbeda dengan negeri ini. Intervensi pemerintah diminimalisir semak-simal mungkin. Salah satunya dengan mengurangi subsidi dan menjual aset-aset vital kepada swasta. Akibatnya ketimpangan ekonomi terus terjadi tidak hanya terjadi diantara penduduk suatu negara kapitalis namun juga antar negara di dunia ini. Kecaman negara-negara miskin Afrika ter-hadap negara-negara G-8 yang terus ingkar janji membatu mereka merupakan salah satu fenomena yang menjadi cermin kegagalan ka-pitalisme.

Bagaimana dengan Islam?Islam mengakui adanya realitas ketimpangan ekonomi. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Meski demikian Islam memberikan solusi untuk mengatasi ketimpangan tersebut. Islam berbeda dengan dengan kapitalisme yang memandang masyarakat secara kolektif tanpa melihatnya per individu disamping tidak adanya konsep batasan kebutuhan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang inidividu. Islam memandang bahwa setiap manusia di dalam masyarakat memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi.

Kesejahteraan masyarakat tidak diukur dari se-berapa besar GNP yang dihasilkan oleh suatu negara namun sejauh mana pemenuhan kebutuhan dasar tiap-tiap individu yakni pangan sandang dan papan terpenuhi. Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada hak yang lebih baik dari anak adam ada kecuali ia memiliki rumah untuk berteduh, pakaian yang menutupi auratnya dan se-jumlah roti dan minuman.” (H.R. Tirmidzi)

Secara individual setiap laki-laki yang telah menginjak dewasa didorong untuk bekerja dan menjadi kewajiban jika ia telah memilik ta-nggungan baik itu anak, istri atau-pun orang tua yang tak lagi mampu bekerja. Ingatlah bahwa hak mereka atas kalian adalah agar kalian berbuat baik kepada mereka dalam mem-berikan makanan dan pakaian.” (H.R. Ibnu Majah)

Bagi mereka yang memiliki keterbasan modal ataupun skill maka negara berkewajiban untuk melengkapi keterbatasan tersebut dengan memberikan sejumlah mo-dal kerja dan bekal keterampilan. Satu waktu seseorang mengadu kepada Rasulullah tentang ke-miskinan yang menimpanya. Rasulullah kemudian membe-rikannya dua dirham.

Satu dirham untuk memenuhi kebutuhan hi-dupnya dan selebihnya digunakan untuk membeli kapak untuk mencari kayu. Pemberian tanah oleh Rasululullah dan para Khula-faurrasyidin kepada sejumlah orang untuk dikelola dan kebijakan Umar memberikan bibit kepada sejumlah petani merupakan secuil contoh inter-vensi negara untuk menjamin distribusi aset-aset ekonomi di samping mendorong pertum-buhannya. Tanggungjawab ekonomi tidak hanya dilimpahkan kepa-da individu dan keluarga namun juga menjadi tanggung jawab masyarakat. Rasulullah bersabda: “tidak beriman seseorang diantara ka-lian yang tidur dalam perut kenyang sementara ia menge-tahui bahwa tetangganya dalam keadaan lapar.” (H.R. Al Bazzar)

Bagi mereka yang memiliki keterbatasan fisik dan psikis da-lam kegiatan ekonomi seperti anak yang belum baligh, orang yang sudah tua, cacat atau gila maka pemenuhan kebutuhan hidupnya menjadi tanggung-jawab keluarganya. Jika mereka tidak mampu maka negara mengambil alih tanggungjawab tersebut dengan mengambilkan biaya dari baitul maal Islam tidak hanya berhenti dalam tataran konsep dan anjuran namun juga metode.

Islam misalnya tidak mewajibkan zakat kepada mereka yang kaya namun lebih dari itu memerintahkan kepada Khalifah, pemilik otoritas pemerintahan dalam Islam, untuk memaksa dan menghukum mereka yang enggan (seperti pada masa Khalifah Rasul Saw, Abu Bakr as Siddiq ra.a ).

Seorang yang wajib dan bekerja namun malas juga akan diberi sanksi. Disinilah relevansi pene-rapan ekonomi Islam dengan ke-wajiban menegakkan negara Khilafah. Dengan komparasi partikular ini jelas bahwa Islam memiliki keunggulan dibanding kapitalisme dalam persoalan distribusi. Belum lagi konsep kehidupan lainnya.

Jika demikian, masihkah kita ragu dengan Islam?

7 April 2009

Psikologi Ikhwan-Akhwat

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang sbesar.
Al Ahzab :35

Semenjak allah ‘azza wa jalla menciptakan nabi adam as seorang diri kemudian diciptakannya Hawa sebagai pendamping untuk menghancurkan rasa kesepian nabi adam ketika berada di surga, yang diciptakan dari tulang rusuk beliau. Sehingga munculah hadist “perempuan itu diciptakan dari tulang rusuknya laki-laki”.

Dari dulu sampai sekarang hanya ada dua kategori manusia yang memiliki jenis kelamnin laki-aki dan perempuan saja.

Secara struktur bilogis ikhwan dan akhwat amat sangat berbeda sehingga dalam pengklasifikasian peran, hak dan kewajiban antara ikhwan dan akhwat pun berbeda satu sama lain. namun perbedaan ini tidal lantas di artikan adanya diskriminasi satu sama lain. islam eist solung

Di dalam islam antara laki-laki dan perempuan adalah setara. Islam menjelaskan secara gamblang dan akurat tentang peran kaum laki-laki dan perempuan dalam kehidupan ini, serta memberikan pedoman yang rinci tentang bagaimana seharusnya mereka berinteraksi antara satu dengan yang lain dalam setiap aspek kehidupan. Penjelasan dan pembagian peran ini langsung berasal dari Allah Swt, Sang Pencipta manusia.

Interaksi yang dibangun antara ikhwan dan akhwat adalah interaksi yang dibolehkan secara syara’, misal dalam konteks pendidikan, kesehatan dan muamalah. Interaksi inipun tidak lain adalah kerjasama demi terwujudnya sebuah peradaban agung yaitu peradaban islam.

Kadang, Seringkali ketika terjadi miss comunication di dua mahluk ini bukan karena “sering atau tidak seringnya” ketika berkomunikasi. Tetapi isi dari komunikasi yang terjalin, akan tetapi memang sangat tidak mudah ketika menjalin komunikasi anatara ikhwan dan akhwat sehingga komunikasi yang terjalin itu efekif kecuali belajar untuk memahami lawan jenis dengan berinteraksi, tapi dengan catatan seperlunya saja dan tetep kudu syar’i.

Oke, saya mencoba untuk sedikit meneliti permasalahan-permasalahan yang biasanya timbul ketika menjalin hubungan interpersonal ikhwan dan akhwat adalah karena “ komunikasi” yang meliputi kontent, cara berkomunikasi, benturan sifat/karakter satu sama lain, beda prinsip dll. Komunikasi itu meliputi bahasa verbal maupun non verbal.

Nah sebelum ke arah “komunikasinya” saya akan bahas sedikit pandangan dari sisi psikologis ikhwan dan akwat. Karena, terkadang kenapa biasanya ada kesalahpahaman dan penyikapan yang salah di kedua belah pihak, bisa jadi satu sama lain belum mengetahui “seperti apa” keadaan, fakta, pengetahuan antara ikhwan dan akhwat (sifat/ karakter yang umum) tentu dalam konteks yang global.

Ikhwan – plEaSe hArgai guE!!-
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oeh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.
An Nisa : 34

Dalam ayat ini Allaah ‘azza wa jalla memberikan sifat Qawamah (kepemimpinan) kepada ikhwan, dan qunut (ketaatan) kepada akhwat. Hal ini menunjukan bahwa fungsi ikhwan adalah memimpin dan kewajiban akhwat adalah taat (lihat Al qurthubi dalam al Jami’ Liahkamil Qur’an 14/179)

Kenapa saya memberikan semacam clue “please hargai gue!!”, tanpa bermaksud sotoy nii kepada para ikhwan ^^. Kalimat ini mungkin sering muncul di benak ikhwan baik dalam konteks dia sebagai anak, peran dia di lembaga dakwah, dunia pekerjaan dan sebagai suami. Kalimat ini sangat erat indikasinya tentang masalah “kepemimpinan” yang sedang ia pimpin. Setiap keputusan-keputusan yang di keluarkan baik konteksnya dia sebagai anak, suami dan anggota masyarakat ingin keputusannya itu “di hargai” bukan dalam konteks mengemis untuk dihargai.

Tapi memang secara tabiat ikhwan lebih senang dan sangat menghargai kepada siapapun ketika dia dihargai dalam hal apapun!! Makanya sangat mudah untuk membuat ayah saya senang dengan seketika ketika beliau sedang marah, hanya cukup dengan “menampakan wajah manis (alah..)” dan untuk menghargai beliau dengan apa yang sudah beliau berikan, cukup dengan tersenyum dan say “nuhun” walaupun belum sesuai harapan (nah, nanti di bahas pas bagian akhwat kenapa rata2 akhwat susah untuk menerima lebih tepatnya suka mengoreksi terlebih dahulu dengan sesuatu yang ada di hadapannya)

mungkin beda-beda setiap karakter kaum laki-laki tapi rata-rata sama. Sudah tabiat ikhwan ketika berkomunikasi tidak banyak bicara, tidak suka di dikte, tidak suka bicara panjang lebar, tidak suka dengan orang yang cerewet, susah untuk mengatakan “saya tidak tahu”(tergantung), susah mengungkapkan sesuatu, keras kepala, egois yang tinggi, tidak suka digurui (kamu tuh kaya gini.. bla..bla..), tidak senang di koreksi secara membabi buta, pantang menyerah, berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan apa yang diinginkannya(tergantung), tidak sabaran (tergantung), tidak ingin diragukan kepercayaan yang diberikan kepada siapapun artinya tidak suka jika ada yang meragukan apa yang ia berikan,de el el.

Secara tabiat juga, ikhwan dalam bersikap lebih menggunakan perangkat akal/logika dibandingkan perasaan dan Mudah untuk melupakan sesuatu dan terkadang Sulit untuk memulai dari awal, jarang menangis/susah untuk menangis tapi sekali menangis justru menghawatirkan.

Akhwat –pLeAsE ngErtiiN gUe!!-
Saya berusaha untuk berpikir objektif sehingga melihat kedua belah pihak tidak bersikap “memihak dan membela (statusnya bukan lawer disinih)”, tujuan tulisan ini pun hanya ingin memberikan gambaran tentang permasalahan yang biasanya muncul dalam hubungan interpersonal ikhwan-akhwat baik dalam konteks personal, lembaga dakwah, anggota masyarakat, dan sikap apa yang seharusnya di ambil! Tentu dalam konteks yang global dan bahasannya tetep syar’i.

“orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada istriku”
HR At Tirmidzi, Abu Dawud dan Ad Darimi

Ada beberapa hadist yang menceritakan tentang “bagaimana” seharusnya sikap ikhwan dalam bersikap dan menyikapi sikap akhwat. Kalau Hadist yang di atas lebih tepatnya sebagai “rambu” yang rasul saw berikan untuk kaum adam agar dalam bersikap kepada istrinya dengan penyikapan yang benar dan hati-hati.

Saya sering bertanya(bukan mempertanyakan!!) ke diri sendiri, kenapa aturan mulai dari al Qur’an dan hadist banyak sekali menceritakan tentang akhwat?? Ternyata, pas di telusuri wajar, sangat wajar luar biasa islam itu agama yang sangat memuliakan seorang wanita. Jangan kira bidadari itu hanya terdiri dari “bidadari langsung!” tapi dari kalangan wanita dunia yang beriman pun ada! (silahkan liat tafsir imam jalalain)

Oke, saya teringat sebuah hadist “jangan mencela (mencaci) nya, dan jangan mendiamkannya kecuali di rumah”  (HR Abu Dawud dan Ahmad),

hadist ini memerintahkan kepada para suami untuk memperhatikan hak-hak istri agar para suami bersikap lemah lembut dan memperlakukan istri dengan makruf (menurut al munawi)

Hadist ini juga berlaku bagi ikhwan ke akhwat dalam konteks yang umum juga, karena secara tabi’i akhwat sangat senang mendengar sesuatu yang “indah” terutama perkataan makanya di haidst nabi jangan mencelanya artinya bersikap lembutlah kepada akhwat baik dengan perbuatan maupun dengan kata-kata! Karena jika tidak jangan aneh ketika melihat akhwat di caci satu kata maka ia akan membalas 1000 kata cacian terhadap orang yang mencacinya tadi! Di koreksi satu kata maka ia kan balik menkoreksi 1000 kata!! Mendengar kata-kata yang kasar itu lebih sakit dibanding dengan dikasari dengan sikap (tergantung)!! Mohon pahami ini udah tabiat (kecuali bagi yang bisa mengendalikan diri). Dan ketika akhwat mendengar sesuatu yang berupa, “pujian, do’a, kata-kata yang indah, syair kalimat-kalimat emosional” maka ia akan sangat senang dan akan bersikap menghargai siapapun yang bisa memahami dan mengerti keadaan dia. Makanya saya kasih clue, plEaSe ngErtiiN gUe!! Ini kalimat mengandung indikasi bagi akhwat ketika ada masalah dengan orang, pasti yang pertama timbul di benak kenapa ga bisa ngertiin gUe sii??..

Jangan mendiamkannya kecuali di rumah ini bermaksud akhwat sangat tidak suka tidak diacuhkan (diperhatikan, red) akhwat paling tidak suka tidak di acuhkan ketika dalam kehidupan luar rumah, entah itu organisasi, perkuliahan (statusnya ketika ngejar dosen untuk bimbingan, kasih tugas, minta perbaikan nilai dll), ini konteksnya global mau itu akhwat ke ikhwan atau kesesama akhwat.

Tapi tidak menutup kemungkinan juga karakter akhwat itu beda-beda tapi hampir rata-rata sama, ketika berkomunikasi lebih vokal, ahli bahasa verbal maupun non verbal, lebih emosional, mudah ekspresi, sulit melupakan tapi mudah melupakan, butuh pendengar, lebih menggunakan aspek perasann (wajar, terkait dengan fungsinya sebagai seorang ibu), kalau ikhwan pingin di hargai kalau akhwat lebih ingin di perhatikan dan di mengerti. Mudah bersabar, argumentatif, detail-isme, de el el.

Ikhwan – akhwat “antara langit dan bumi”
Jalaludin Rumi mengatakan ikhwan-akhwat bagaikan langit dan bumi, apa yang terlintas dalam benak anda?? pasti jauh sangat jauh berbeda(dengan berbagai macam perbedaannya), kalau saya memandang bukan fakta perbedaannya yang menyebabkan menjadi berpikir “jauh”, saya tidak memandang dari sisi perbedaan karena memang tanpa kita pandangpun memang berbeda dan memang sudah takdir untuk berbeda.

But, U ever thingking?? Langit ketika hujan dan airnya jatuh ke bumi sehingga bumi tadi bisa menghasilkan tanaman-tanaman. Bumi bisa menghasilkan sesuatu karena ada air yang jatuh dari langit. Memang sudah aturannya seperti itu.

Begitu juga ikhwan-akhwat, kekurangan ikhwan itu di tutupi oleh kelebihan yang akhwat miliki begitu juga sebaliknya. Saling melengkapi.

Benak kusut
Permasalahan yang sering kali muncul antara ikhwan-akhwat dalam hubungan interpersonal baik statusnya sebagai sesama anggota dakwah, anak kuiahan, dunia pekerjaan, sebagai salah satu anggota keluarga dan anggota masyarakat. Biasanya yang sering terjadi pasti karena, miss komunikasi, jarang komunikasi (rapat kaga jalan) sehingga terjadi lose kontrol sehingga menyebabkan komunikasi satu arah, adanya pembelaan dan klarifikasi, komunikasi kek perang  ofensiv dan defensiv, ini dalam konteks ikhwan-akhwat yang ada dalam sebuah lembaga dakwah (saya ambil kehidupan yang global). Intinya mah komunikasi!! Corak komunikasi yang dibangun, isi atau kontent komunikasi yang dijalin!!

Saya ambil contoh, ada seorang akhwat secara karakter dia sangat serius dalam bersikap terutama masalah hubungan ke arah yang serius, tiba-tiba ada ikhwan yang siap untuk mengkhitbahnya, nah tanpa di sadari ikhwan tadi mengungkapkan “kalimat” yang begitu meninggikan dari keadaan akhwat tadi lewat kata-kata seperti, “ukhti saya siap menikahi ukhti dan saya harap ukhti menerima pinagangan saya dan saya akan menbahagiakan ukhti”.

Hhmm, apa yang ada di pikiran kalian?? Keknya si ikhwan tadi di terima karena secara psikologis akhwat itu lebih senang dipuji dan mendengarkan kata-kata yang indah.

Sayang sekali, akhwat tadi menolaknya. Saya ga akan bahas kenapa-napanya, tapi intinya adalah corak komunikasi yang dibangun dan kondisi psikologi komunikan. Memang secara psikolgis akhwat senang mendengar kata-kata indah, tapi itu lantas tidak menjadi jaminan ia akan bersikap atau merespon baik dari yang kita kira.

Corak komunikasi yang kalau saya menilai bisa diandasi oleh beberapa hal, yang pertama sebagai ekspektasi dari gharizah bisa nau’ contohnya kek di atas tadi, bisa juga baqa’ mungkin seperti kalimat, “ukhti bisa kita ketemu berdua untuk membicarakan khitbahan saya (baqa’ yang dilandasi hawa nafsu sehingga kurang berpikir jernih dan menghalalkan segala cara agar tujuan tercapai), yang terakhir dari gharizah tadayyun seperti “maukah ukhti menjadi bidadari dunia yang kelak akan melahirkan mujahid/ah generasi pejuang islam, bersama-sama menguatkan keimanan, membangun keluarga yang ideologis?? (alah..)

Heuheu.. saya suka ketawa sendiri kalau nulis kek ginih, btw bukan ini yang ingin saya tunjukan!!

Kembali ke corak komunikasi, yang kalau saya menilai contoh-contoh kek diatas lebih kepada corak komunikasi yang dibangun atas landasan gharizah. Bukan corak komunikasi yang dilandasi atas pemahaman yang diharapkan bisa membangun pemikiran bersama sehingga yang perlu diperhatikan adalah metode dan data penelaahannya walaupun ini menyangkut urusan hati. Sehingga akan ada penyikapan yang benar.

Corak/landasan komunikasi yang dilandasi dari akal/pemahaman yang tujuannya diharapkan akan membangun pemikiran bersama itu lebih abadi dibandingkan corak komunikasi yang dilandasi atas gharizah.karena gharizah akan berubah-ubah tergantung rangsangannya. Tapi memang, ketika kita berinteraksi itu sebagai pemenuhan atas naluri tapi yang saya maksud itu adalah “kecenderungannya”, perangkat mana yang akan ia pakai, perasaan/emosnya kahi?? Atau akalnya??

Manusia itu terdiri dari akal dan emosi bukan dipisahkan akan tetapi kedua perangkat itu memang ada di dalam manusia itu sendiri. diharapkan ketika bersikap atau membuat keputusan pemahaman/akallah disini cenderung untuk didahulukan dibandingkan perasaan atau emosi.

Benak lurus –memasangkan langit dan bumi-
Oke, seperti apakah misal seseorang yang lebih mengedepankan akal/pemahaman yang diharapkan akan membangun pemikiran bersama dengan memperhatikan metode penelaahannya, sehingga muncul sikap yang benar!! Termasuk urusan hati (alah lagi)

Jangan aneh ketika melihat ikhwan yang secara perangai kasar, keras kepala, dingin, dan bukan sifatnya ketika ia harus bersikap lembut pada seorang akhwat (bisa ibunya atau juga istrinya, adik perempuannya) berarti dia telah mengamalkan hadist nabi saw di atas sebagaimana Umar bin Khatab r.a. bersikap lemah lembut kepada istrinya, mendengarkan setiap keluhan istrinya (cerewet, red), sikap Umar ketika turun ayat An Nisaa :3 yang membatasi jumlah akhwat untuk dipoligami maka Umar menceraikan istri-istrinya yang cantik kecuali istri yang secara fisik biasa saja tapi apa perkataan Umar, “saya khawatir kecantikan istri2 saya bisa melalaikan iabadah saya terhadap Allaah ‘azza wa jalla dan saya lebih senang memilih istri yang cerewet agar mengingatkan saya untuk beribadah terus”.. itulah Umar yang memiliki perangai yang kasar dan keras kepala lagi dingin akan tetapi dapat bersikap lemah lembut terhadap istrinya.

Dan jangan aneh pula ketika ada seorang akhwat yang lebih memilih untuk bersikap sabar dan mengerti terhadap sikap dari ikhwan (bisa ayahnya, kakak, suaminya, teman lembaga dakwah) ketika ikhwan tadi belum bisa bersikap lemah lembut, masih bersikap kasar dan dingin. Akhwat tadi tidak menuntut untuk sikap yang seharusnya tapi lebih memilih untuk mengerti dan bersabar, menunggu hingga suatu saat nanti pasti ia bisa mengamalkan hadist Nabi Saw di samping ia senantiasa mengingatkan, Berarti akhwat tadi seperti laksana Ummu sulaim r.a. sahabiyah yang masuk islam awal ketika ummu di persunting oleh abu Talhah r.a.yang ia masih dalam keadaan kafir akan tetapi ummu sama sekali tidak menolaknya (pastinya secara perasaan, setiap akhwat menginginkan suami yang unggul terutama dari segi keimanan agar dapat membingbingnya). Ummu hanya mengatakan tanpa perkataan yang mendikte dan menuntut, “aku mau menjadi pendampingmu jika kau masuk islam , dan aku rela islam sebagai maharku” ummu seketika menjadi jalan “cahaya” keislaman Abu Talhah r.a. yang kelak Abu menjadi salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga(semoga allaah memberikan rahmat kepada para sahabat Nabi)

terpikirkankah oleh kita seorang Abu mantan orang kafir yang memerangi Nabi dulunya bisa menjadi salah satu sahabat yang dijamin masuk surga?? luar biasa peran Ummu…

Sahabat-sahabat semua, dalam teori yang saya curahkan dalam tulisan ini, bisa saja salah!(karena setiap orang punya teori dan punya sisi psiko masing2 sehingga memunculkan pandangan yang berbeda-beda, yang salah adalah jika pandangan itu berdasarkan asumsi/prasangkaan belaka)

hanya saja, saya memandang antara laki-laki dan wanita memiliki kelebihan dan kekurangan yang tidak sama. Sehingga dari setiap kekurangan dapat kita terima dengan lapang dada dan ikhlas sebagaimana kita bisa dengan mudahnya menerima kelebihan orang lain.

Dua manusia ini tidak akan pernah cocok dan sama selamanya sampai mati!! Karena memang di takdirkan untuk tidak bisa sama dan mustahil untuk dipaksakan bisa sama karena kedua-duanya adalah berbeda!! Tidak ada istilah cocok atau tidak cocok antara ikhwan dan akhwat yang ada adalah “bagaimana” bisa mencocokakan diri!! Tapi ini juga mustahil berarti kita menjadi orang lain bukan diri sendiri, kita mengerjar sesuatu demi kepuasan hawa nafsu..

Contoh kecil adalah orang tua, jujur saja, saya dalam keluarga terdapat banyak sekali karakter dan sifat yang sama sekali berbeda, kesukaan, kesenangan yang sama sekali berbeda.

Orang tua saya tahu dan mengerti akan perbedaan ini, tapi perbedaan ini tidak lantas mencari tahu apa parameter persamaan(saya cenderung menilai ini lebih menggunakan perangkat perasaan)!! Sehingga perbedaan itu akan harmonis, bukan itu!! Sungguh bukan itu!! Kalau seandainya semua orang tua berpikir seperti itu pasti akan ada pemutusan hubungan antara orangtua dan anak, ada “sesuatu” yang melebihi hanya sekedar membuat “parameter” karena jika manusia yang menentukan parameter ini pastinya akan berubah-ubah!!

So apakah itu??
“Sikap tulus” yang lahir dari keimanan kepada sang Al Khaliq itulah yang melahirkan sikap saling mengerti dan memahami keadaan lawan kita.. yah, sikap tulus yang akan melahirkan sikap yang tidak banyak menuntut, sikap menerima apa adanya dalam artian hargai dia sebagai manusia yang layak dihargai walaupun ketika ia berbuat salah disamping telah menasehati, dan sikap saling memahami.

sikap tulus dapat juga diartian lahir dari cara berpikir untuk dapat “menerima”, menerima tidaklah berarti menyetujui semua perilaku orang lain atau rela menanggung akibat dari perilaku oarng lain. menerima tidak berarti menilai pribadi orang berdasarkan perilakunya yang tidak kita senangi, betapapun jeleknya perilaku menurut persepsi kita. jika tidak ada sikap ini maka yang ada adalah mengkritik (secara psikologis akhwat sangat kental dengan sikap ini, tapi sikap menkritik ini bukan lahir dari sikap untuk meremdahkan, sama sekali tidak!! tapi lebih ke arah sikap tegas melindungi diri dari sesuatu yang tidak sesuai dengan hukum syara’), dan mengecam buta.

Sikap tulus yang lahir dari pikiran jernih. Ini yang saya maksud membangun pemikiran bersama sehingga objektif. Sehingga komunikasi yang dijalin akan sehat dan efektif. Karena corak atau isi komunikasi yang dibangun berdasarkan kecenderungan ia menggunakan perangkat akal bukan emosi atau perasaan. Sehingga lagi, akan muncul sikap “saling” saling mengerti, memahami, menasehati, mengingatkan dll. Jika terjadi perselisihan di kembalikan lagi kepada landasan yang menjadi corak komunikasi yang tujuannya membangun pemikiran bersama dan kembalikan setiap perselisihan itu adalah hukum syara’ sebagai “source of solution”!!

Cat : tulisan ini konteksnya umum

1 April 2009

Caleg Cinta Surga VS Caleg Cinta Dunia

Terinspirasi ketika pulang bareng ma kakak dari dipatiukur ke Rancaekek. Melihat kesana-sini pemandangan di sekitar jalan sama saja ketika saya akan keluar kosan menuju ke kampus..(karena naik motor jadi leluasa untuk liat sana-sinih)

tempelan poster-poster partai yang sebentar lagi akan menjelang pemilu yang ke-sepuluh, memenuhi di setiap peleseran jalan. Ada yang ditempel di pohon, di tembok, di tong sampah juga ada, di bawah kaki ketika kaki kita jalan juga ada, otomatis itu poster langsung lusuh. Bendera sudah dipasang di sana sini, dalam hati apakah mereka tahu, apakah mereka sadar bagaimana rakyat memandang “demontrasi” secara tidak langsung lewat penempelan poster, pemasangan spanduk dan bendera sudah berapa banyak rakyat indonesia yang setidaknya sadar nanti tanggal 9 april akan ada pemilu?? saya ngga mau langsung menjudge “mereka salah” dulu, tapi berdasarkan data survei yang dilakukan oleh Lingkar Madani untuk Indonesia menunjukan data hasil dari interview 720orang yang di wawancarai sebanyak 25% tidak tahu kapan pemilu akan dilaksanakan. Nah?? tidak tahu sebenarnya ada berapa kartu untuk pemilu nanti?? (jujur saya juga baru tahu kemarin, ternyata ada 4)

Lantas saya berpikir “jangan hanya bisa pasang bendera dan tempel poster di sana-sini!!”, mana edukasi kalian sebagai sebuah parpol?? mana upaya kalian untuk mencerdaskan rakyat akan politik??

dari segi visi-misi adakah satu partai yang ingin membawa rakyat ini keluar dari sebuah mosaik multikulture yg terpuruk dlm kebangkrutan ekonomi, politik, liberalisasi pendidikan dll?? adakah dari kalian yang ingin membawa negri ini keluar dari permasalahan yang pelik dan memberikan solusi yang cerdas yaitu syariah?? lebih tepatnya syariah dalam bingkai khilafah!!

jangan jauh-jauh kesana, adakah dari kalian yang memiliki visi-misi berupa, akan me-nasionalisasi aset2 negara?? mengambil alih aset negara yang sudah di rampok oleh “penjajah” (AS dan antek2nya, red) yang berkedok sebagai teman, hubungan bilateral, dll??

nah, saya coba ingin membandingi dan mengingat kembali peristiwa gaza di akhir 2008 yang lalu..

imagesjika lihat di TV ataupun kita searching di internet, suasana dan keadaan kota palestina pasti di penuhi poster-poster berupa partai-partai yang ada. Salah satunya HAMAS.

Tidak hanya tempelan poster tapi juga disertai visi-misi perjuangan yang intinya adalah membumi hanguskan Israel dari tanah air mereka!! mengusir penjajah yang selama ini menindas hak-hak rakyat palestina!! tempelan poster rakyat palestina yang sudah syahid dan catatan keberhasilan atas kesyahidan mereka, dan ajakan untuk segera syahid!! ^^.. allahumma anshurna mujahidin fii filistin

gazadi sisi lain, bagaimana HAMAS mencari anggota-anggota untuk masuk ke partai mereka. Salah satu syarat, yang saya pikir luarbiasa subahanallah.. salah satunya adalah, tidak merokok, selalu ontime shalat berjama’ah di mesjid terutama shalat shubuh, hafal al Qur’an (saya lupa berapa juz-nya, tapi yang pasti lebih dari 1 juz), senatiasa mengeluarkan kata-kata yang baik dll. Pernah di TV one di tayangkan ketika ismail, reporter Tvone bertemu dengan salah satu anggota HAMAS, bagaimana luar biasa pribadi mereka, sangat bersahaja pastinya kepribadian seorang yang berkarakter islam.

Bandingkan dengan Caleg di negri ini, bagaimana?? adakah diantara mereka yang membuat syarat untuk menajdi anggota mereka itu, hafidz?? yah, setidaknya hafal beberapa juz?? adakah di antara mereka yang berteriak untuk “bersama-sama bebas dari cenkraman kapitalisme??”..

sepanjang yang saya lihat penempelan poster, spanduk, pemasangan bendera dll… hanya berupa gambaran yang berbau “ cinta dunia”, ajakan-ajakan dan rayuan2 dari caleg yang kaga jelas dan memalukan diri mereka sendiri..

bandingkan dengan di palestina sangat jauh berbeda, mereka mengajak rakyat palestina untuk merindukan surga, mengajak syahid, mengajak untuksegera mengusir zionist yahudi!! Caleg legislatif di negri ini mengajak rakyatnya untuk semakin cinta dunia..

sungguh jangan salahkan kami ketika kami tidak akan memilih kalian, jangan menasumsikan kami sebagai orang-orang yang pesimis karena tidak ikut serta di pemilu!! kalian lebih mencinta dunia dan mengajak untuk semakin cinta dunia!!

saya jadi ingat dengan ungkapan salah seorang dosen di kampus saya, yang mengatkan secara tidak langsung “orang-orang” yang tidak ikut serta pemilu seperti pesimis dengan keadaan..

ketika memilih untuk tidak memillih bukan berarti pesimis!!

justru kami optimis melihat pemilu ini tidak akan membawa perubahan apapun!!

24 Maret 2009

Lembaga pendidikan – Partai politik (mana yang bisa membangkitkan masyarakat??)

Kebangkitan masyarakat di awali dari proses terpahamkannya kecerdasan politik di tengah-tengah masyarakat. Kecerdasan politik disini adalah kesadaran kritis dan kesadaran profetik.

Kesadaran kritis adalah kemampuan individu melakukan analisis terhadap suatu permasalahan yang terjadi secara holistic dan makro sehingga dapat menguraikan hubungan sebab-akibat.misal, Contoh mengenai aspirasi rakyat, pada pemilihan gubernur jabar beberapa waktu lalu dalam program visi dan misinya akan memberikan sekolah gratis.. dan memang saat ini ada beberapa daerah yang ada program gratis sekolah dan sudah menggratiskan (tapi daerah saya ada yang belom pak) tapi di sisi lain di surat kabar kompas(25 February 2009), mengkabarkan sebanyak 1200 rakyat jabar putus sekolah. Analisisnya, perlu dipertanyakan, aspirasi seperti apakah?? Pendidikan sudah ada yang gratis tapi di sisi lain angka rakyat yang putus sekolah tinggi sekali, why?? Dan mempertanyakan kembali kinerja wakil rakyat seperti apa?? dan aspirasi seperti apakah yang akan memuaskan rakyat sehingga rata?? Apakah sekolah gratis hanya berkutat pada permasalahan pendidikan saja?? Or..?? kesadaran kritis ini hanya berhenti pada analisis tapi memancing untuk memikirkan solusi.

Tapi tentunya analisis terhadap permasalahan pastinya akan berbeda-beda secara individu. Nah, disini ada subjek peran(parpol islam, red) yang dibutuhkan agar sampai pada proses analisis yg sistematis sehingga akan berujung pada solusi yang sistematis juga. Sedangkan Kesadaran profektik adalah kesadaran manusia dalam rangka melakukan perubahan transformasi social dengan metode tertentu. kesadaran profektik pun memiliki kemampuan melakukan analisis terhadap suatu permasalahan tapi yang membedakan dengan kesadaran kritis adalah ada suatu keinginan perubahan transformasi social politik atas dorongan agama/islam. Nyambung lagi ke contoh kasus di atas, jika individu telah melakukan kesadaan kritis kemudian akan terpancing untuk memikirkan bagaimana solusinya disinilah di butuhkan kesadaran profektif. Kesadaran profektif akan melakukan dekontruksi pemikiran mengenai masalah aspirasi tadi dikaitkan dengan pemahaman yang syar’I. bagaimana aspirasi dalam islam?? Apakah dalam system islam ada lembaga yang akan menapung dan mewujudkan aspirasi rakyat?? Kemudian bandingkan dengan aspirasi di bawah demokrasi sehingga akan berujung pada sebuah solusi yang sistematis.

Permasalahannya saat ini apakah masyarakat dewasa ini sudah memiliki kesadaran kritis dan profektik?? Apakah peran peran lembaga pendidikan dengan kurikulum dan metode tertentu berhasil melakukan pencerdasan politik di tengah-tengah masyarakat?? Sehingga masyarakat sadar dan tergerakan untuk melakukan perubahan??

Pada kenyataannya lembaga pendidikan manapun walaupun memiliki kurikulum yang benar, tidak bisa mencerdaskan(politik, red) terlebih lagi meningkatkan taraf berpikir karena lembaga pendidikan sifatnya hanya transfer ilmu bukan memahamkan.mendidik manusia hanya semakin bodoh dan susah konsentrasi, kadang saya suka mikir, pada saat SD-SMA kita disodori sebanyak 13 study yang berbeda-beda, bagaimana mungkin saya bisa jadi ahli 13 pelajaran dalam kurun waktu 6/3 tahun?? Pada faktanya walaupun sudah belajar sekitar 13 tahun(plus TK) tetep saja bodoh(ga ahli dalam satu bidang). Di sisi lain, sekolah mencetak sosok ilmuwan yang hanya memberikan fakta dan data tanpa ada penilaian yang objektif. Sehingga sekolah mempersiapkan individu untuk berpengaruh di masyarakat secara parsial, ia hanya mampu mempengaruhi perasaan yang sedikit sekali pengaruhnya dalam merangsang untuk berpikir.

Ditambah peran lembaga pendidikan di beberapa negri muslim sangat minim baik jumlah maupun kontribusinya, hanya ada 500 Universitas di 57 negri muslim. Kontribusinya pun untuk melahirkan sosok intelektual yang mampu memimpin perubahan yang ada hanya sebagai sosok intelek yang menjalankan kepentingan asing. Kecuali yang sudah terideologisasi oleh islam.

Bagaimana dengan partai politik?? Partai adalah kelompok yang terdiri atas dasar pemikiran dan memiliki metode yang jelas untuk menerapkan pemikiran atas dasar ideology(islam, red) yang di adopsinya. Peran partai sendiri adalah sebagai subjek untuk mencerdaskan masyarakat, ada controlling pemikiran dan perasaan masyarakat untuk digerakan dalam sebuah gerakan yang terus meningkat(kualitas dan kuantititasnya) Fungsi partai adalah mendidik masyarakat dan mengeluarkan dari kebodohan akut dan siap untuk go internasional ^^.. partai juga sebagai tempat untuk kaderisasi, melahirkan sosok2 intelektual yang memiliki vision draft yang jelas untuk membangkitkan masyarakat keluar dari multidimensi masalah. Pemikiran-pemikiran islam menjadi alat pemecah untuk menganalisis setiap permasalahan yang berujung pada solusi yang sistematis juga.

Kecerdasan politik adalah memahamkan kepada masyarakat mengenai realita dan permasalahan yang kompleks dari sudut pandang ideologis tentunya ideology islam. Mencerdaskan kepada masyarakat arti politik dalam islam itu seperti apa, dan pengurusan urusan masyarakat yang sesuai dengan islam. Sehingga masyarakat dikemudian akan memiliki kesadaran yang kritis dan profetik.kemudian akan berujung pada sebuah perubahan yang diperjuangkan yakni perjuangan yang ideologis demi perubahan menuju masyarakat yang hidup di bawah aturan islam.

Wallahu’alam

Rancaekek 24 March 2009, 18:03 pm.

16 Maret 2009

Ideologisasi Intelektual

Seorang Intelektual berbeda dengan ilmuwan. Ilmuwan hanya memberikan fakta tapi intelektual memberikan penilaian. Jika Ali Syari’ati menyebutkan intelektual sebagai pemikir yang tercerahkan karena mengikuti ideology islam secara tersadarkan sehingga ia akan memimpin masyarakat menuju perubahan yang revolusioner.

Syeikh Taqiyudin An Nabhani mengatakatan, perubahan harus berasaskan pada sebuah gerakan politik tanpa kekerasan karena islam adalah sebuah ideology dan untuk merubah masyarakat menuju cita-cita yang ideal yaitu hidup di bawah aturan islan maka haruslah menempuh dengan perjuangan ideologis yang tertuang dalam sebuah gerakan perpolitikan seperti halnya yang Rasul Saw dan para sahabat contohkan.

Kampus memiliki potensi yang sangat luar biasa, didalamnya terdapat para ilmuwan unggul dan cerdas yang focus menekuni bidang sesuai yang diminatinya. Para intelektual tersebut ada yang berstatus sebagai mahasiswa/I, dosen dengan gelar yang berbeda. Kaum ilmuwan ini berperan sebagai peneliti, pemikir yang beraktivitas mengembangkan berbagai macam keilmuwan, sains dan technology. Jika kita berpikir melihat keadaan Indonesia yang memiliki sumber SDA yang luar biasa ada, mulai dari lahan, hutan, air dan tambang. Para ilmuwan ini terdorong untuk meneliti sumber daya alam baik yang ada di perut bumi maupun di permukaan tanah. Semua penelitian ini didapatkan dari hasil penelitian kaum ilmuwan.

Pada faktanya, Hasil penelitian tersebut tidak gunakan untuk kemaslahatan rakyat, kebanyakan hasil penelitian hanya terbatas untuk publikasi jurnal dalam bentuk paper/makalah, baik nasional maupun internasional, atau membuat laporan hasil penelitian kepada lembaga research atu pihak pemberi dana. Jika senadainya ada dua orang yang sedang melakukan penelitian dan ia di danai segala hal-hal penelitiannya itu oleh pihak asing maka hasil penelitiannya itu menjadi pihak asing yang memegang kendali.

Sementara mekanisme melaporkan kepada pemerintah itu tidak ada, sehingga peran pemerintah untuk menggunakan penelitian tersebut dalam hal mengelola SDA demi kemasahatan rakyat tidak ada. Justru yang tahu betul itu adalah pihak asing, sehingga merekalah yang memetakan SDA bangsa ini.

Maka sungguh tidak aneh sebenarnya, jika SDA negri ini dikeruk oleh pihak asing, karena mereka sangat tahu betul SDA di bangsa ini dibandingkan rakyat maupun pemerintahnya. Tidak lepas karena peran para imuwan. Ibaratkan Indonesia memiliki ayam, yang tahu Indonesia itu punya ayam adalah kaum ilmuwan. Indonesia butuh dana untuk memberi makan buat rakyatnya, ada pihak yang lain yang punya dana. Kaum ilmuwan mengatakan pada bangsa ini,”ya sudah ayamnya saja kita jual..” Indonesia nurut-nurut ajah.. Kenapa ayamnya yang dijual, kenapa ga telurnya?? Nah, kalo ayamnya kita jual ya kita miskin.

Peranan intelektual menuju perjuangan ideologis Islam meletakan para intelektual dalam posisi yang terhormat sebagai pendidik umat dan sekaligus pelindung umat dari berbagai kepentingan yang akan menghancurkan mereka.

Bisa di bilang kaum intelektual ini ada di garda terdepan untuk melindungi bangsa ini dari kehancuran, dari terinjak-injaknya keidelismean sebagai kaum intelektual.

Karena kalau kita melihat dari definisi intelektual sendiri itu sebagai free thinkers, pemikir yang tercerahkan , pemikir yang dicerahkan oleh ideology islam . maka intelektual saat ini benar-banar dalam keadaan lost condition! Lost ideology! Intelektual yang sekaligus menjadi sang terorisme, ya karena tidak bisa lepas dari system kapitalisme saat ini yang membuat kaum intelektual kehilangan ideology sejatinya seperti apa.

Satu-satunya agar kaum intelektual menjadi seorang intelek yang tercerahkan, adalah kembali memahamkan islam kepada para ilmuwan, dan mengingatkan peran mereka.

Mengutip dari bukunya Ali Syari’ati, ideology kaum intektual

“Pemikir yang tercerahkan berbeda dengan ilmuwan. Seorang ilmuwan menemukan kenyataan, seorang pemikir yang tercerahkan menemukan kebenaran. Ilmuwan hanya menampilkan fakta sebagaiman adanya, pemikir yang tercerahkan memberikan penilaian seharusnya. Ilmuwan berbicara dengan bahasa universal, Ilmuwan bersikap netral dalam menjalankan pekerjaannya, pemikir yang tercerakan harus melibatkan diri pada ideologi.

Islam is ideology

Pada zaman Rasul dan para sahabat tidak di kenal istilah ideologi. Istilah ini muncul pada tahun 1950-an. Muncul dari seorang intelektual yang mencentuskan untuk perubahan keadaan umat islam menuju transformasi perubahan politik dalam setiap bidang..

dengan merubah kesadaran jumud menuju kesadaran kritis. Kesadaran kritis yaitu kesadaran melihat realita/kondisi saat ini yang sudah sangat jauh fakta islam.. Namun bukan berarti tidak adanya pemaknaan istilah ideologi ini lantas islam tidak dimaknai sebagai sebuah ideologi.. sama sekali tidak, kebiasaan kaum muslimin terdahulu adalah selalu menjadikan islam sebagai sebuah agama yang menyediakan berbagai macam solusi atas setiap permasalahan yang sedang terjadi, baik itu dari segi politik, pendidikan, sosial ke masyarakatan,muamalah, pergaulan dll.

Seperti hal nya istiah “aqidah”, dahulu sebelum 6H umat islam tidak pernah menggunakan istilah ini. Dicetuskan dari kalangan ushuludin. Istilah ini pun merupakan padanan dari kata “iman” sehingga umat islam menerimanya. Dan untuk memudahkan umat islam dalam melakuakan aktivitas berpikir adalah dengan penyedarhanaan dalam istilah. Istilah ideologi berasal dari kata “idea” yang berarti pemikiran, daya khayal, konsep atau keyakinan. Kemudian logos yang berarti ‘ilmu atau logika.

Dengan demikian ideologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang keyakinan dan gagasan.. Kemudian istilah ideologi ini di simulasikan ke dalam bahasa ‘arab itu sendiri yaitu “idiyuluji”. Atau dengan sebutan yang berbeda yaitu mabda’.

Intinya adalah pemikiran yang paling mendasar yang tidak dibangun dari pemikiran yang lain. Seorang penulis dari Perancis menyebutkan ideologi sangat erat kaitannya dengan orang yang mengerakannya, cendikiawan atau intektual dalam masyarakat. Ideologi berbeda dengan bentuk-bentuk pemikiran lain, seperti halnya ilmu pengetahuan dan filsafat. Ideologi menuntut agar kaum intelektual atau siapaun yang meyakini ideology bersikap setia (commited).

Ideologilah yang mampu merubah masyarakat. sementara ilmu dan fisafat tidak, karena sifat dan keharusan ideologi meliputi keyakinan tanggung jawab dan keterlibatan untuk komitmen.

Sejarah mengatakan revolusi, pemberontakan, pengorbanan hanya dapat digerakkan oleh ideologi. Baik ilmu maupun filsafat tidak pernah dapat melahirkan revolusi dalam sejarah, walaupun keduanya selalu menunjukkan perbedaan-perbedaan dalam perjalanan waktu.

Ideologi atas pemaknaan dalam islam merupakan pemikiran yang paling mendasar. Hanya ada pemikiran yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta apa yang ada sebelum dunia dan yang sesudahnya.. inilah pemikiran mendasar tadi yang sekaligus menjadi aqidah umat islam. Karena aqidah islam adalah pemikiran yang menyeluruh antara alam semesta dan kehidupan. Pemikiran mendasar inilah yang jua disebut sebgai pemikiran menyeluruh islam.

Pemikiran yang mendasar ini juga di sebut sebagai ideology. Inilah subtansi ideology sendiri yaitu apa dan bagaimana ideology itu sendiri. Ideology islam berupa pemikiran/fiqrah/aqidah dan aturan/nidzam/thariqah.. kaifiyat ideology islam di terapkan

islam adalah sebuah ideology penggerak perubahan menuju tatanan masyarakat yang ideal.. yang dimana perjuangannya membutuhkan perjuangan yang ideologis.

islam mendorong pemeluknya untuk menggapai cita-cita yang ideal yaitu hidup di bawah aturan ideology islam itu sendiri.

Hal ini berarti Islam perlu dipahami sebagai sebuah ide dan bukan sebagai sekumpulan ilmu. Islam perlu difahami sebagai suatu gerakan ideologis, politik, kemanusiaan, historis dan intelektual, bukan sebagai gudang informasi teknis dan ilmiah.

Dengan demikian berarti Islam perlu dipandang sebagai ideologi dalam pikiran seorang intelektual manapun.

Wallahu’alam ^^

5 Maret 2009

Battle Of Word

Dalam majalah foreign affairs istilah baru lebih tepatnya simbol bahasa yang di luncurkan yaitu ‘terorisme’.

istilah ini mulai dipopulerkan.. dulu di AS istilah untuk ‘pembunuhan politik’ demi kepentingan suatu ‘kekuasaan’ tertentu demi menjatuhkan lawan AS tidak menggunakan langusng istilah Terorisme tapi menggunakan istilah Urban guerilla [gerilya kota] , urban gerilya sendiri merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan cara kekerasan dengan kebuasan yang melampaui batas untuk menimbulkan rasa takut yang luar biasa yang disertai jatuhnya korban secara acak dalam rangka tujuan politik.

Ada nuansa heroisme di istilah ini, yakni istilah yang memikul arti sebuah perjuangan demi meraih cita-cita tertentu [makanya, para mujaahid HAMAS banyak ahli politik, termasuk ayah saya, menyebut mereka sebagai para pejuang gerilya] dengan ber-gerilya. Tapi semenjak awal tahun 90-an istilah ini bagaikan ditelan bumi dan menghilang begitu saja lebih tepatnya secara sengaja memang dihilangkan!! Dan mulai muncul istilah new yaitu Terorisme yang diembel-embeli istilah islam. Jadi ajah Terorisme Islam. Istilah ini muncul bukan secara tidak sengaja tapi memang diciptakan dan sengaja di adakan, tujuannya dengan maksud memprakarsai dan membangun konflik internasional. Dengan cara

Ø Mempersiapkan adanya suatu ideologi yang bermusuhan ke dlaam benak rakyat AS sendiri.. jadi ingat kasus WTC, dalam bukunya jerry the gray ‘behind the insident of 13/09’ salah satu penyebab kenapa bush sendiri me-bom 2 gedung, pentagon ma WTC karena ingin, di satu sisi untuk memancing rasa nasionalisme rakyat AS yang sudah mulai melemah disisi lain juga sebagai gerbang awal untuk memerangi umat islam ‘fundamentalis’, dengan kejadian 13 sep, tadi semua rakyat AS serasa terpanggil untuk ‘satu utbuh’ .

Ø Memprovokasi berbagai insiden yang membangun amarah dan kebencian di kalangan publik AS terhadap islam, imbasnya adalah pembunuhan karakter terhadap pengemban ideologi islam itu sendiri

Ø Menciptakan wahana untuk memelihara agar perang terus berlanjut, tanpa mempedulikan opini umum

Maka sangat wajar jika mass media barat sangat rajin bin tekun –terutama AS- mendendangkan istilah terorisme. Ketika AS melalui mass media seringkali melakukan tadli siyasi, penyesatan opini. Seperti kasusnya israel menyerang Gaza dengan alasan Defensiv, mempertahankan diri karena HAMAS telah melakukan penyerangan terlebih dahulu. Padahal pada faktanya, siapa sebenarnya penjajah dan yang dijajah, apa yang dilakukan oleh HAMAS itu sebagai upaya mengusir Israel ‘sang imprealis sejati 4ever’, masyarakat dunia yang bodoh pastinya akan termakan opini tersebut, masyarakat yang rendah berpikirnya akan berpikiran positiv seperti ‘ah da, israel mah emang kitu’ ya, setidaknya husnu’udzan terhadap saudaranya sendiri. Masyarakat yang sangat cerdas melihat dari berbagai macam sisi,awal permasalahan, tafqir waqii, tafqir syar’i dan terakhir tafqir siyasi. Tidak mudah termakan isu!! Apalagi asumsi!

Perang melawan terorisme atau war againts terrorist yang pada intinya adalah perang untuk melawan islam dan kaum muslimin.

Untuk menghadapinya, hanya dengan tasqif jama’iy.. pembinaan terhadap masyarakat yang harus dilakukan oleh sebuah partai islam.bisa berupa seminar2, diskusi panel, talk show dll. Membongkar ada apa dibalik AS dan pendukungnya mengehembuskan Battle of word!!

Wallahu’alam bishawab ^^

5 Maret 2009

Kepuasan intelektual

Banyak baca, tapi sedikit action apa yang dirimu cari?? Kepuasaan intelektual semata kah!! Banyak berpikir, mencari sesuatu padahal sudah ada di hadapanmu!! Ngaji bukan untuk diamalkan tapi hanya sekedar ingin menambah wawasan atau tsaqafah, ngaji-nya hanya semata-mata untuk mengejar kepuasaan intelektual semata!! Banyak baca, tapi sedikit gerak!!

Istilah ‘kepuasan intelektual’ populer ditelinga ketika saya ngaji.. fenomena2 ini saya rasakan sendiri dan melihat keadaan sekitar ketika ada seseorang dia ‘doyan baca buku pisan’ tapi kadernya tidak ada..

lebih tepatnya belum ada. Kepuasaan inteltual dimaknai, niat atau pencarian seseorang ketika ia ikut mengkaji, entah itu halaqh, seminar, diskusi, menantang diri sendiri sejauh mana pemahaman yang ia miliki, tidak puas hanya ikut satu kajian, sering kecewa ketika kajian yang di ikutinya tidak sesuai yang dia harapkan. ini terjadi di manapun, sebelumnya saya pernah mengikuti kajian liqa’, karena ada beberapa hal yang saya ngga puas dan kurang syar’i akhirnya saya berhenti..

Kepuasaan dalam hal memenuhi dan ingin merasa ‘paling’ dalam tararan tsaqafah atau ‘ilmu lainnya, dikatakan kepuasan intelektual jika dia mengikuti kajian niatnya hanya untuk menambah tsaqafah islam doank!! Islam di pelajari hanya sekedar ‘ilmu bukan untuk di ‘amalkan.

Apakah sama kepuasan intelektual dengan kepuasaan aqliyah?? Bukankah sebelum action ‘aqliyah kita harus terpuaskan terlebih dahulu??

Metode kajian menurut islam menyatakan bahwa hukum-hukum syariat islam dipelajari secara praktis.. mungkin bahasa simplenya, dibahas hanya secara global. Kemudian kita sendiri yang mencari secara detailnya itu sperti apa..

Ketika saya mengkaji kitab Daulah Islamiyah, sangat terasa bagaimana strategi Rasul Saw dan para sahabat ketika akan mendirikan sebuah negara berasaskan islam dan aturan yang mengatur interaksi antara mereka yang penduduk di madinah itu bermacam-macam, ada suku Aus, kharaj, muhajiirin dan kaum yahudi dari berbagai bani adalah aturan islam. Kenapa munculnya piagam madinah? Apakah itu taktik Rasul atau memang secara sengaja dibuat??.. ketika hanya sekedar membaca, mengerti iyah tapi tergambar secara teknis sama sekali tidak terbayangkan.. baru terbayangkan pas dikaji dengan Mutola’ah.

Namun, terus terang untuk mencari secara detailnya agar kita terbayang gambaran khilafah masa depan itu seperti apa, ngga cukup hanya dengan mengkaji satu waktu, dan itulah PR besar kita..

‘ilmu islam di pelajari sebagai ilmu yang bersifat praktis agat dapat diterapkan baik oleh pemerintah maupun individu. ‘ulama fiqh mengatakan ; ilmu yang membahas masalah-masalah syariat yang bersifat praktis, dan digali dari dalil-dalil terperinci. Islam memberikan kebebasan bagi para pencari ‘ilmu, orang yang senantiasa haus akan ilmu untuk berijtihad di ruang yang memang di bolehkan untuk berijtihad. Dengan metode kajian seperti ini kajian tentang islam akan menghasilkan ilmu bagi yang mempelajarinya dan amal perbuatan bagi masyarakat baik individu maupun negara..

Kenapa harus muncul istilah kepuasaan intelktual apalagi hal ini ditujukan kepada para pengemban ideologi?? Islam??

Nyatanya ada yang salah, ketika banyak membaca tapi gerak dikit, ketika banyak baca tapi belum ada kader.. pasti ada yang salah dengan apa yang dia baca. Niat dia ketika ngaji itu apa??

‘ilmu lil ‘amal. Tingkah laku itu sangat dipengaruhi oleh pemikiran kita, apa yang dapat mempengaruhi pemikirian/pemahaman kita, ya ma’lumat tsabiqah.

Pelajari dulu filosofi ‘ilmu dalam islam dan balasan-balasan bagi para pencari ‘ilmu itu apa. doktrin ‘ilmu dalam islam itu ada.

Kenyataannya pada saat ini menunjukan bahwa islam hanya sekedar ‘ilmu belaka, seakan-akan islam adalah filsafat yang bersifat khayal dan teori belaka

Seorang pencari ‘ilmu itu ibaratkan ember yang selalu di isi air, bayangkan jika ember itu di isi air terus menerus maka ember tersebut akan luber, tapi lain cerita jika di sekitar ember di beri ‘selang’ untuk mengaliri air ke tempat yang lain, lebih berguna.

Begitu juga kita, sang pengembara ‘ilmu, senantiasa haus akan ‘ilmu.. biar me-mutajasad, biar berguna, maka sebarkanlah apa yang kita pahami!! Yaitu Action dengan Da’wah!!

Wallahu’alam^^

2 Maret 2009

ZaiD anD FaiZ…. “struggle of khilafah”

Abdullah Zaid Ramadhan

meow0022Dia adalah zaid putra pertama dari pasangan Teh fadiyah ma suaminya kang gaza..

di beri nama zaid, Berharap kelak akan seperti zaid bin tsabit yang terkenal sebagai qari’ nya umat islam, komandan pengumpul hafalan alqur’an pada masa hidupnya yang pernah berdampingan dengan Rasul Saw… dan zaid-zaid lainnya… mendidiknya dengan pendidikan islam… kelak akan seperti mereka… Aamiin..

di lahirkan pada hari akhir bulan ramadhan kemarin.. beratnya sekarang ampir 7kilo.. endut banget.. beberapa kebisaan zaid saat ini Saat zaid melihat HP maka ia pasti mendadak kalem tepat di depan HP, berubah jadi fotogenic… gambar di atas, salah satu gambar yang saya foto di HP…. Kalo di depan akhwat-akhwat, mendadak jadi zaim… bukan mahram kata umminya kek gitu… dalam hati zaid, ketika berada di tengah-tengah akhwat dan bilang ini bukan jama’ah saya..

Kalo di panggil syeikh mendadak langsung melihat wajah orang yangmeow0031 memanggilnya [seperti akan berkata iya, ada apa?? Mau minta fatwa apa?,

kalo ma umminya di panggil zaid supaya liat kita rada zaim, tapi kalo dah di panggil syeikh…. , apalagi kalo disebut ganteng, zaid pasti langsung, menengok dan melihat wajah orang yang memanggilnya itu…

kalo bilang ‘cayang’, zaid cayang tetehnya… tangan zaid langsung ke kepala orang yang sedang dekat dengan dia.. kaya ngelus-ngelus gitu.. kalau di ajak bicara, zaid pasti enyum-enyum ampe ketawa terbahak-bahak..

hahaha lucu pisan….

Faiz gazi

faiz-masyirah11Bukan faiz, yang ada dalam novel ‘Cinta Yang terlambat’ sebagai pemeran tokoh utama di sandingi dengan zest..

Dia adalah faiz… faiz gazi… di ambil dari nama seorang prajurit islam dari persia… kalo dilihat dari namanya, jelas sangat jelas harapan orang tuanya kelak faiz akan menjadi salah satu prajurit islam yang memiliki mental jihad, siap mati syahid.. Aamiin…

Umurnya satu tahun enam bulan Foto disamping diambil pas selesai masyrah akbar di Jakarta 4 january lalu ttg “ganyang Israel”… ma umminya pasti… keren banget, pas masyirah faiz di gendong ma umminya, khawatir kalo faiz jalan sendiri ketinggalan nanti…

itu anak, sering banget ikut masyirah, luar biasanya pas masyirah ga rewel.. emang dah di program ma umminya kek gitu.. jadi ngga aneh walau faiz masih kecil pas ikut masyirah sambil pegang raya’ liwa yg kecil dia teriak ‘Allahu Akbar!!”

Kebisaan faiz saat ini udah bisa bilang “bunda”… ayehayehhayehhyeyyeyeye.. maksudna ‘ayah’…

dah bisa bilang “Allahu akbar…

faiz-masyirah21jika adzan berkumandang, faiz langsung diem, pas umminya bilang ‘berdo’a’.. dua tangannya langsung menengadah jika selesai pastinya di bimbing ma umminya, Aamiin sambil mengusap mukanya… dah bisa gerakan-gerakan shalat ^^ dll ruarrrr biasa…. Mujahid-mujahid kecil… penerasi pejuang islam

Seorang anak itu bertindak bagaimana lingkungan sekitar, yang paling dekat adalah hal-hal yang biasa di lakukan oleh ummi dan aby nya seperti apa… Anak akan melakukan sesuatu hal yang ia lihat, bagi ummi dan abynya, harus memberikan teladan yang baik..

Sungguh tidak aneh, seperti hasan ‘anak kecil berusia 3,5 tahun sudah hafidz’ yang berasal dari Iran… karena aktivitas sehari-hari hasan mengikuti aktivitas ummi dan abynya..

ummi dan abynya hasan, ketika menikah belum menjadi pasangan yang hafidz, tp mereka sudah membuat proram, pada saat umur 23 tahun mereka menikah, setelah itu membuat program tahfidz.. dan ketika hasan lahir, karena memang sudah semejak dari kandungan dan bayi hasan kecil lahir.. umminya selalu membaca, menghafal dan mengkaji.. hasan mengikuti program yang di ikuti oleh kedua orangtuanya.. pada saat usia pernikahan 4 tahun, bertepatan dengan usia mereka menginjak 27 tahun mereka sudah hafidz begitu juga hasan… keren banget…

atau seperti bundanya imam syafi’I, di masa kandungannya kebiasaan beliau adalah tilawah dan shaum daud, dan ketika imam syafi’I lahir, sebelum menyusui imam syafi’I umminya selalu mengambil wudhu dan tilawah.. dan bagaimana pengorbanan ummu fathimah ketika mencari syeikh-syeikh untuk mengajari syafi’I kecil faham akan ‘ilmu agama dan pengetahuan. jadi hebatnya seorang anak, cerdasnya seorang anak, letak dasarnya adalah tergantung pada kedua orang tuanya seperti apa??!! Terutama umminya, seorang ibu adalah madrasah awal bagi anaknya kelak!! Tanggung jawab yang sangat besar!!

Anda ingin kelak, anak anda menjadi seorang hafidz?? Tergantung anda.. tergantung seberapa besar perhatian anda terhadap al qur’an, entah itu membacanya, menghafalnya, dan mengkajinya!! Kemudian di ‘amalkan…

Anda ingin kelak, anak anda menjadi seorang pecinta da’wah… masa kecilnya sudah bisa mengajak kepada kebenaran seperti ‘ali bin abu thalib… menjadi pendamping dan pembela setia Rasul saw yg membawa kebenaran, seperti pada saat da’wah Rasul ke keluarga beliau dan mengajak seluruh keluarga beliau untuk masuk islam dan melindungi da’wah beliau, tak satupun yg menggubris perkataan Rasul kecuali seorang anak kecil dengan gagah berani dia berdiri dan berkata, “Rasulullah, saya akan membantu anda,” “saya adalah lawan siapa saja yang kau tentang!!”…. Ruaarrrrrrr biasa!!

Subahanallah!! Tergantung anda??!!

Anda ingin kelak, anak anda menjadi seorang pecinta ‘ilmu, rela mengorbankan apa saja demi mendapatkan ‘ilmu, seperti perkataannya ‘Ali bin abu thalib, “siapa saja yang mau mengajarkan saya satu huruf maka saya adalah hamba sahaya baginya”.. atau seperti Syeikh Ali tanthawi yang membaca buku, 100 halaman perhari… atau seperti imam bukhari sebelum beliau menuliskan satu buah hadist beliau mengawalinya dengan shalat istikharah 2 rakaat.. setiap akan menulis hadist pasti di awali dengan shalat istikharah…. Tergantung anda??!!

Anda menginginkan kelak, anak anda memiliki mental jihad fii sabilillah, ahli strategi perang seperti Khalid bin walid ‘sang pahlawan perang mu’tah, terkenal dengan strateginya yg sangat cerdas!’, sa’ad bin abu waqqas ‘pahlawan di perang qadisiyah’, thariq bin ziyad ‘sang penakluk andalusia’… jihad itu tidak hanya sekedar ‘siap mati’ tapi brpikir juga bagaimana strategi, penempatan setiap pasukan, persenjataan, dll… ingat Roma belum di taklukan??

Tergantung anda, tidak hanya ahli pemikiran yang ideologis tapi juga ahli ‘ilmu-ilmu perang, dimulai dari pengetahuannya tentang jihad, sejarah jihad masa lalu, doktrin2 perang setiap Negara, pengetahuan aktivitas militer, persenjataan dll.

Masa depan itu tergantung masa sekarang, saat ini… apa usaha kita, apa strategi kita dalam menjalani hidup..